≡ Menu

PASKAH

Setelah absen beberapa saat, hari ini Monsieur Rerasan kembali muncul dengan postingan berjudul PASKAH. Mari kita sambut tulisan ini sambil mengucapkan Selamat PASKAH buat semua yang merayakan. Begitu juga buat Monsieur Rerasan dan Mevrouw serta keluarga besar Monsieur Rerasan di Yogya. (drt)

masBakdi5JUSTRU di hari Kemis Putih, Monsieur Rerasan harus menguji seorang promovenda dari ISI Yogyakarta, yang menulis disertasi tentang wayang Potehi. Berangkat ke kampus diampirin Dr. Nur Sahid, M.Hum yang datang dengan mobil dan membawakan oleh-oleh ayam goreng dari Bakule Semen. Wah, matur nuwun. Makanya, ia tak bisa ngikut ngibadat yang pukul 5; Mevrouw usul ikut yang pukul 8 di Gereja Pringwulung. Duduk beberapa saat di deret tengah nunggu misa mulai, lewatlah bu Kristin bergegas-gegas. Ia mau ikut koor. Wah, hebat sekali. Seharian lari di atas pelana bebek Yogya-Prambanan, masih bisa nyanyi. Bagus lagi!

​Selama masa Paskah, dari Kemis hingga Minggu, banyak peristiwa terjadi. Di Jalan Kakap, seorang istri bersuka-ria, menciumi suaminya beberapa ribu kali karena dibeliin mobil baru, walaupun dengan kredit. Tapi di Mrican, seorang istri gugur karena sakit yang cukup lama. Ada seorang mahasiswa ekonomi yang sedih bertumpuk-tumpuk: nilai papernya D, dompetnya ilang, motornya dipinjam teman ke Borobudur sejak lima hari belum kembali. Dan masih ada lagi, pacarnya dilarikan adiknya sendiri. Tetapi di tempat lain seorang cewek bergembira-ria karena nilai paper pacarnya A-; bea siswanya diperpanjang, dan tahun depan ke Cambridge. Begitulah hidup; ada yang sedih dan ada yang gembira. Seorang penyair pemeluk agama Buddha menulis sajak: yang sedih kita syukuri, yang gembira kita terima. Di dunia fana tak ada yang kekal…

​Pada hari Jumat Adi, ketika Yesus wafat dan Krishna & Detty merayakannya dengan nyanyian passio, seorang teman dari Bali, yakni mas Wayan, nanya sama Rerasan. “Itu kematian Yesus koq sangat memberi inspirasi diriku, ya” Katanya.

​“O, ya ta. Tapi situ kan pemeluk Hindu?” Bertanya Toeminggoes.

​“Apa nggak boleh?” Tanya Wayan.

​“Yang melarang siapa? Tapi ada baiknya situ lapor pada pak RT, RW dan Pak Lurah,” kata Rerasan.

​“Koq bisa mendapat inspirasi dari wafatnya Yesus itu piye?” Nyah Karso Bali bertanya.

​“Elho, Yesus itu kan orang baik-baik saja. Lalu ditangkap, diadili, dibunuh…dan kematiannya dimaksudkan untuk menebus yang percaya kepada Beliau.” Wayan menjelaskan. “Ia mengorbankan nyawanya untuk sesamanya yang mempercayainya.”

​“Lha Kangjeng Paman itu, sudah sepuh, umurnya hampir 80 tahun. Tapi masih suka kasih kursus bahasa Belanda. Dan uangnya untuk cucu-cucunya. Ini kan juga hebat?” Yu Gregel berteriak.

​“Betul! Mevrouw ya gitu. Tiap hari, mulai pagi-pagi sampai jauh malam menterjemahkan novel, buku sejarah, buku politik…dan uangnya dicelengi, untuk beliin mainan Raia di Ustrali,” Kata Rerasan lagi.

​“Hampir semua orang tua begitu. Korban untuk anak cucunya,” Kata Yu Gregel lagi. “Celakanya, anak-anak yang dibelani kagak tahu..Kagak punya perasaan balas budi kepada orang tuanya.” Sambungnya.

​“Mungkin sudah harus begitu. Ingat kisah Begawan Bagaspati? Ia mati demi anaknya, Pujawati yang gandrung kepada Narasoma…” Kangjeng memotong. “Semoga yang berkorban tetap bahagia dan ikhlas seperti Yesus…”****

{ 0 comments… add one }

Leave a Comment

Next post:

Previous post: