Sapi Maen Bola

by drt on September 9, 2009

Kalau ingatan saya benar, itu judul sebuah sisipan dalam majalah Intisari di tahun-tahun awal penerbitannya.

Tentu saja, tak ada sapi yang bermain bola di dalam ceritera itu. Tapi itu pengalaman seorang pengunjung daerah lain ke Irian Barat (waktu itu), yang terbingung-bingung tatkala ada yang bilang padanya: “Sapi maen bola”

Kemungkinan banyak di antara pembaca sudah tahu kalau apa yang dimaksudkan dalam kalimat itu adalah logat daerah yang maksudnya, saya pergi maen bola. Tapi seperti bahasa pasar di daerah Indonesia Timur lainnya, kalimat saya pergi maen bola itu dipangkas menjadi sa(ya) p(erg)i maen bola.

Di kampung saya, juga ada kesamaan ini. Hanya saja orang Kupang akan mengatakan ‘be pi maen bola’, sehingga tak ada yang bingung karena bepi bukan sapi. Paling orang luar daerah akan bertanya-tanya, siapa si bepi? Kenapa dia diberitahu ‘bepi’ main bola? Jawabannya sederhana. Kalau di Irian saya dipangkas jadi sa, di Kupang beta dipangkas jadi be.

Ide untuk menulis serial ini muncul di benak saya beberapa minggu terakhir ini. Masalahnya, tidak mungkin saya bisa mengurusi 3 blog, dan bisa mengisinya setiap hari. Tapi ada satu hal yang selalu menjadi obsesi saya. Bicara dalam logat kampung saya, atau sering disebut bahasa Kupang. Tidak. Tak ada maksud untuk bersaing dengan rubrik Tapaleuk harian Pos Kupang untuk mengisi blog dengan bahasa Kupang. Tapi mungkin ada cara di mana saya tak perlu membuang banyak waktu menuliskan sesuatu yang begitu dekat di hati. Menulis tentang bahasa Kupang atau bahasa Pasar dari Kupang yang begitu akrab di hati, walaupun sebagian besar orang menganggap itu bahasa kelas bawah.

Itu adalah pengantar serial baru ini. Perlu saya tekankan, saya bukan ahli bahasa. Mungkin ahli bahasa seperti Yohanis Manhitu lebih tepat untuk menguraikan urusan bahasa ini. Yang ingin saya uraikan di sini adalah berbagai istilah dalam bahasa Kupang yang masih tersisa dalam ingatan saya sebelum akhirnya hilang termakan usia, maupun istilah-istilah yang selama ini berhasil dikumpulkan bersama teman-teman di milis Pak Laru Bolelebo. Itu saja niat saya. ***

Popularity: 1% [?]

{ 2 comments… read them below or add one }

lili September 17, 2009 at 3:08 am

pertama kali datang ke jakarta dan bekerja di sebuah kantor NGO begitu teman-teman tau asal saya dari atambua NTT. setelah perkenalan nama panggilan saya di ganti menjadi SAPI MAEN BOLA
benar2 menjengkelkan.

Yohanes Manhitu June 27, 2010 at 10:57 am

Salam, Om Sapi Maen Bola!

Semoga selalu sehat dan terus bersemangat ‘merumput hijau’, mumpung musim Piala Dunia sedang berlangsung.

Suatu kebetulan bahwa saya menemukan tulisan Om Sapi Maen Bola ini setelah saya membaca beberapa sumber siber tentang Bapak Bahasa Indonesia, penggubah “Gurindam Dua Belas”, Raja Ali Haji (1808–1873), yang walaupun jasanya begitu besar dalam meletakkan dasar-dasar bahasa Indonesia modern, hampir dilupakan. Syukurlah beliau sudah dianugerahi gelar pahlawan oleh Presiden RI.

Keanekaragaman bahasa Melayu bukan hal baru karena sudah lebih dahulu diselidiki Raja Ali Haji dan rekan-rekan sezamannya. Itulah yang dikatakan sumber-sumber yang saya baca. Menurut hemat saya, selalu menarik untuk menyentil berbagai variasi bahasa Melayu. James T. Collins menyinggung beberapa aspek keanekaragaman bahasa Melayu dalam bukunya yang berjudul “Malay, world language; A short history”, diterbitkan di Kuala Lumpur oleh Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia.

Berhadapan dengan bentuk “sapi maen bola” dan sejenisnya, tampaknya orang lebih cenderung untuk mencibir tanpa berusaha memahami kejamakan bahasa Melayu itu sendiri. Kita lebih suka menertawakan sebelum mencoba memahami objek tawa kita. Ada orang-orang tertentu yang (sudah) mengejek bahasa Melayu-Kupang sebagai versi bahasa rusak (/bahasa hancur) dari bahasa Indonesia, yang ternyata dari hari ke hari makin dirusak oleh para penuturnya sendiri. Jika pembaca meragukan kebenaran kata-kata saya tentang perusakan bahasa Indonesia, tolong hidupkan radio atau televisi, atau lebih gampangnya, pasang kuping ke kiri dan ke kanan dan coba dengarkan pembicaraan orang di sekitar kita dengan sikap kritis dan kedewasaan berbahasa. Setiap orang yang melek sejarah pasti tahu bahwa bahasa Melayu-Kupang sudah ada jauh sebelum kehadiran bahasa Indonesia di Kupang. Sebuah sumber menyatakan bahwa pada tahun 1800-an seseorang dari Rote yang bermarga Manafe (konon lulusan sekolah bahasa Melayu di Ambon) telah menulis buku dalam bahasa Melayu-Kupang (saya belum sempat mengecek di Perpustakaan Wilayah Kupang apakah buku itu masih tersimpan [dengan rapi] di sana). Secara pribadi, saya berharap agar kita senantiasa bersikap hormat dalam berbahasa (tidak memandang rendah bahasa tertentu, yang adalah bagian dari peradaban suatu kelompok manusia). Salah satu contoh yang sederhana namun sangat mendasar dalam kaitannya dengan pemahaman akan bahasa Indonesia dan bahasa Melayu-Kupang adalah kemampuan menggunakan secara tepat bentuk “hari ini” dan “ini hari” yang masing-masing berarti “today” (Inggris), “aujourd’hui” (Prancis), “hoy” (Spanyol), “hoje” (Portugis), “neno i(a)” (Dawan), “ohin” (Tetun) dalam bahasa Indonesia dan bahasa Melayu-Kupang.

Izinkan saya menuliskan beberapa baris kalimat dalam bahasa Melayu-Kupang sebagai wujud rasa hormat saya kepada warisan budaya ini. Makasi ee Om Sapi Maen Bola su sonto ini isu bahasa. Beta kira sonde ada yang sala deng bahasa Kupang kalo orang berusaha ko mangarti dan cari tau dia-pung jalan carita baru bapote bilang ini ato itu rusak. Sonde ada yang sala deng bahasa Kupang karna memang dari dolu dia su bagitu. Bahasa Indonesia balóm ada di Kupang, dia su ada duluan. Bahasa ju ke manusia, parlú katóng sonto deng hormat. Jang maen kasar tarús sá! Bahasa ju ke tanaman, parlú katóng siram ko dia subur. Jang lepas buang ko dia karíng. Katóng bersukúr karna bahasa Indonesia su ika kaskuat katóng jadi bangsa besar: bangsa Indonesia. Justru deng bahasa Indonesia katóng su buat pasal bagus yang jamin bahasa kici dong, termasuk bahasa Kupang, ko idop tarús sebage ini negara pung harta (yang musti katóng jaga bae-bae ko ‘orang laen’ dong jang tarek ambe ko jadi dong-pung). Beta pikir, soal bahasa, yang penting katóng tau di acara apa katóng musti pake jas deng dasi dan di mana katóng pake bikini. Raja Ali Haji deng dia-pung kawan dong su bilang “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung” dan orang Inggris dong tamba lae dong-pung “When in Rome, do as the Romans do”. Jang buat yang sonde-sonde te nanti nene-moyang dong su kasi tarús ini bahasa di katóng iko demo dari jao sana.

Salam untuk Om Sapi Maen Bola dan semua pembaca yang budiman. Semoga tulisan Om ini turut mendorong kita untuk menghormati keanekaragaman budaya bangsa. Ketunggalikaan itu cita-cita bangsa, kebhinnekaan itu pelangi negeri.

Terima kasih!

Leave a Comment

Previous post:

Next post: