≡ Menu

Sepi Semakin Sepi (2)

Pertama kali, saya mendengar ceritera ini dari Winnie berapa hari setelah perayaan Thanksgiving.

Ada seorang tua asal Indonesia di Michigan yang sudah meninggal sampai berapa hari tapi tak ada yang tahu. Winnie mendengar ceritera ini dari putri kami, Ignasia. Makanya begitu ketemu Ignasia, saya langsung tanya bagaimana duduk ceriteranya.

Setelah lulus bulan Mei lalu, Ignasia bilang dia ingin jalan-jalan dulu sebelum lanjutkan studinya. Nah, untuk membiayai perjalanan dia nanti, dia bekerja apa saja yang layak asal bisa menghasilkan uang. Musim panas kemarin begitu lulus, dia pergi mengurusi anak-anak berprestasi dari berbagai sekolah menengah di US yang diselenggarakan di sebuah kampus di Pasadena, California. Pekerjaan ini sudah dia kerjakan selama 3 tahun berturut-turut dan sudah sempat membawa dia ke California sampai Hawaii. Sudah itu dia mengajar juga di sebuah pusat bimbingan test masuk ke fakultas kedokteran di kota kampusnya. Bukan itu saja. Dia juga kerja di restaurant dan perusahaan kue dengan waktu yang fleksibel. Dari berbagai pekerjaan itu dia sudah dapatkan tiket ke Sydney untuk melihat kakaknya di sana musim semi yad, dan sekarang dia lagi menunggu tiket dari Sydney untuk pergi menginterview mahasiswa asing yang akan study lanjut ke Amerika di sebuah negara di Asia.

Nah, dari restauran itulah dia bertemu dengan pak tua asal Indonesia yang setiap minggu menurut yang punya restauran suka makan 3 sampai 4 kali di restauran itu. Orangnya ramah, tapi jalannya sudah lamban sekali.

Ignasia hanya tahu nama panggilan beliau dan tidak tahu nama lengkapnya. Setelah berceritera sebentar, akhirnya saya terus mencari ke Internet, dan baru tahu kalau pak tua yang menurut Ignasia kalau kemana-mana suka memakai topi Princeton itu berusia 76 tahun sewaktu meninggal.

Informasi lain yang bisa saya temukan, ternyata beliau seorang psikolog dan ada yang mengucapkan terima kasih kepada beliau atas kontribusi beliau dalam sebuah paper yang dipublikasikan sekitar tahun 1973.

Selain itu ada satu lagi yang ingin tahu, di mana sekarang beliau berada karena dulu beliau pernah menolong orang yang punya persoalan ketagihan obat terlarang.

Ada juga berita duka di Internet dan acara di Gerejanya. Tapi dalam buku tamunya saya hanya temukan satu pengisi, yakni seorang dari toko buku yang sering dikunjungi beliau semasa hidupnya. Rupanya beliau suka memesan buku khusus dari toko buku itu.

Sebenarnya tak ada yang tahu ketika beliau meninggal. Tapi pemilik restauran yang sudah berapa hari tak melihat beliau akhirnya memaksakan diri ke rumahnya, karena setelah dia telpon berkali-kali tidak ada yang angkat. Rupanya beliau tinggal sendirian. Akhirnya, setelah diketok-ketok dan tak ada yang buka pintu, pemilik restauran ini memanggil polisi, dan menemukan kalau temannya sudah meninggal entah sejak kapan.

Tak banyak yang bisa kami temukan tentang psikolog lulusan Princeton yang meninggal dalam kesendirian ini selain yang sudah saya sebutkan di atas. Menilik publikasi yang mengucapkan terima kasih kepada beliau terbitan tahun 1973, pasti beliau ke Amerika beberapa tahun sebelum itu. Menurut Ignasia, beliau diterima di Princeton dengan beasiswa penuh. Iya, beliau keturunan Tionghoa.

Ada yang menggelitik dan membuat hati tertegun mendengar semua ini. Walaupun kami tidak kenal dengan beliau, tapi sewaktu mendengar ceritera ini sehabis perayaan Thanksgiving bulan lalu, Winnie sempat sertakan beliau dalam doa malam kami. Setelah mendengar ceritera dari Ignasia, saya kembali teringat judul buku Motinggo Boesje yang pernah juga saya pakai sebagai judul posting. Sembari mengetik, dalam hati saya hanya bisa mengucapkan, selamat jalan Dr. P.

Semoga kini beliau telah beristirahat dalam kedamaian abadi.

{ 0 comments… add one }

Leave a Comment