Sepi, Semakin Sepi

by drt on September 7, 2009

Teman-teman dekat saya pasti pernah dengar kata-kata ini.

Iya, ini judul sebuah novel Motinggo Boesye. Saya membacanya sekitar 40 tahun lalu sebelum saya berangkat ke Yogya. Makanya sudah tidak banyak lagi yang tersisa dari buku itu. Tapi tidak, judul ini tak ada hubungan sama sekali dengan ceritera mengenai wajah ibu kost bagaikan bulan purnama waktu berceritera dengan ibu tetangga saat menimba di sumur, atau wajah ibu kost yang cemberut saat menyediakan makanan bagi anak-anak kost. Ini adalah ceritera tentang sepasang suami istri di usia senja yang membukakan pintu mereka untuk anak kost, ketika anak-anak mereka sudah tidak di rumah lagi.

Hari Senin ini di sini liburan. Makanya Jumat sore berdua Winnie dan dua anjing kami, Krypto dan Roman, kami berangkat ke Atlanta. Putri bungsu kami siangnya sudah tiba duluan dari Michigan. Putra ketiga kami baru sampai sekitar tengah malam beberapa jam setelah kami.

Sabtu siang berenam — dengan putra kedua dan menantu kami — kami pergi makan siang di restauran Korea. Ini restauran kesukaan kami kalau berada di Atlanta. Lokasinya di Exit 32 ringroad 285 di kota Atlanta. Setiap berkunjung ke Atlanta, kami suka makan bersama di sana. Tapi kali ini mungkin kali terakhir kami makan bersama sekeluarga minus putra sulung kami yang kerja di luar negeri.

Yang menjadi pemicu posting ini, gara-gara saya bertanya pada putra saya: “Jadi kapan baru kamu kembali?”

Dia malah balik bertanya: “apa maksudmu kapan kamu kembali? Aku pindah ke sana!”

Saya cuma bilang, “Oh!”

Diam-diam judul buku Motinggo Boesje itu muncul di kepala saya.

Ini bukan pertama kali putra saya berhenti dari kerjaannya. Iya, saya ulangi, dia minta berhenti. Padahal entah berapa banyak orang yang ingin sekali untuk bisa bekerja di tempat kerjaan dia di Atlanta. Mantan boss yang merekrut dia dan sekarang mengurusi divisi mereka yang lain malah ingin promosikan dia untuk bekerja di kantor mereka di New York asal dia mau. Tapi, entahlah. Saya tak tahu kepala batunya itu turun dari mana? Dia ogah. Dia ingin menggambar, melukis, dan bosan dengan kerjaannya sekarang. Alasan ini persis sama dengan alasan ketika dia minta berhenti dari kerjaan pertamanya di sebuah perusahaan raksasa hanya karena ingin punya keleluasaan untuk mengerjakan animasi dia sendiri.

Minggu depan, Riki akan terbang ke negeri nun jauh di selatan sana — New Zealand. Tak ada yang bisa kami katakan, dan perasaan saya, mamanya jauh lebih siap menerima kenyataan ini dibandingkan saya. Tapi selain berat hati, tak ada yang bisa saya katakan lagi. Karena seperti kata Khalil Gibran dalam puisinya berjudul Children yang saya terjemahkan bebas di sini:

Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu,
Mereka adalah putra-putri kehidupan dengan kerinduan mereka sendiri
Mereka datang lewat kamu tetapi bukan dari kamu,
Walaupun mereka bersamamu tetapi mereka bukan milikmu.

Kamu bisa berikan cinta kasihmu tetapi bukan pikiranmu,
Karena mereka punya jalan pikiran sendiri,
Kamu bisa menampung tubuh mereka tetapi tidak jalan pikiran mereka,
Karena jiwa mereka tinggal dalam rumah hari esok yang tak bisa kamu kunjungi, bahkan di dalam mimpimu.

Kamu bisa berusaha untuk menjadi seperti mereka, tetapi jangan berusaha agar mereka menjadi seperti dirimu,
Karena hidup tidak berjalan ke belakang, atau tertinggal pada hari kemarin.
Kamu adalah busur di mana anak-anakmu adalah anak panah kehidupan yang dikirimkan kepadamu,
Pemanah melihat sasaran terbaik dan lintasannya,
Dan dia membengkokkanmu dengan keperkasaannya biar anak panahnya bisa meluncur sampai jauh.
Biarlah kelengkunganmu di tangan sang pemanah merupakan suatu keceriaan,
Karena selain Dia mencintai panah yang meluncur,
Dia juga mencintai busur yang stabil.

Namun, biar di hati ingat kata-kata itu, tak terasa ada yang masih menggelitik di hati. Makanya diam-diam saya ke kamar dan menyetel laptop saya untuk mendengar lagu Shiretoko Ryojo! Lagu dari daerah tempat kelahiran Riki.

Sewaktu video itu sampai di bagian ini, tak terasa saya pun ikut berdendang:

Wakare no hi wa kita
Ra-u-su no mura ni mo
kimi wa de te yu ku
toge wo ko-e te
wasure cha ya da yo
ki magure karasu-san
watashi wo nakasu na
shiroi kamome yo,
shiroi kamome yo……

dan waktu akan terus berjalan,
dan minggu depan akan tiba,
sepi,
semakin sepi,…..
….
watashi wo nakasu na
shiroi kamome yo,
shiroi kamome yo……***

Popularity: 1% [?]

{ 7 comments… read them below or add one }

Nanik September 7, 2009 at 11:56 pm

O Kribo, sudah saatnya anak2 departed menempuh kehidupan mereka masing2. Om sudah mendapat kehormatan untuk mendidik mereka dan pada waktunya mereka akan pergi.
Jadi sekarang ada alasan untuk cuti dan terbang ke New Zealand melihat anak atau cucu2 yang akan hadir.

Salam

drt September 8, 2009 at 12:04 am

Makasih Inabua. Logiknya memang begitu. Tapi tak sejalan dengan apa yang dirasakan. Yang pertama, sudah begitu jauh. Sekarang adiknya. Payback? Gak tahu dan gak mau pikir lagi. Cuma pengin dengar lagu, dan punya alasan untuk mengisi blog yang tak pernah diurusi lagi. :-)

inabete September 8, 2009 at 9:20 am

Dengan berjalannya waktu, semua akan terasa lebih enteng!

Salam

drt September 8, 2009 at 10:14 pm

Thanks, Inabete.

Henny P September 11, 2009 at 7:14 am

Om Aris,
Anak-anak, istri, suami atau siapapun di dunia ini setiap saat dapat meninggalkan kita dengan alasan masing-masing tapi DIA tetap setia menyertai kita selama-lamanya.

drt September 11, 2009 at 8:04 am

Benar. Makasih mambo’i. Itu ayam dong ada kena flu babi ko sonde? :-)

Henny P September 12, 2009 at 11:05 am

Om Aris lai..
Sedangkan babi sa son kana flu babi..apalai ayam yang kana flu babi? Kasian si-babi jadi sasaran. Makanya sekarang dong su son pake istilah flu babi lai tapi flu A H5N5.

Leave a Comment

Previous post:

Next post: