≡ Menu

Sepucuk Surat Untuk Para Penderita Kanker

Dari Seorang Dokter Ahli Bedah Syaraf Yang Selamat Dari Kanker Usus Besar Stadium 3.

Bulan Januari tahun ini, saya kehilangan seorang adik sepupu, Lan, akibat kanker payudara. Padahal dalam pertemuan terakhir kami, dia sangat gembira dan sempat menunjukkan luka yang sudah mengering di payudaranya kepada saya. Sementara itu, dalam beberapa minggu ini adalagi beberapa orang keluarga dekat yang sedang menjalani pengobatan kanker. Setiap kali, kalau sudah bicara urusan kanker, saya akan mengulangi lagi ceritera tentang pengalaman Dr. David Shu, seorang ahli bedah syaraf Taiwan. Saya juga akan memberitahukan mereka untuk membaca tulisan atau hasil wawancara Dr. Shu yang sudah sempat saya terjemahkan ke bahasa Inggris di berbagai postingan saya. Tapi itu berarti suatu kesulitan buat sanak keluarga di Indonesia karena mereka butuh bantuan orang yang bisa terjemahkan tulisan Dr. Shu ke dalam bahasa Indonesia lagi. Oleh karena itu, dalam beberapa hari ini saya sempatkan diri untuk menterjemahkan lagi surat Dr. Shu ini ke dalam bahasa Indonesia. Mungkin ada yang bisa melihat kalau ada perbedaan di sana-sini kalau dibandingkan dengan terjemahan Inggris saya. Hal itu karena saya terjemahkan langsung dari teks aslinya, bukan terjemahan dari hasil terjemahan bahasa Inggris saya. Bila ada yang ingin koreksi, tolong isi komentar di akhir postingan ini. Terima kasih dan semoga terjemahan ini membantu. (drt)

Dalam pepatah Tionghoa ada ungkapan “身 在 福 中, 不知 福” yang berarti, orang yang bergelimang dalam kebahagiaan, tidak sadar akan kebahagiaannya. Tentu saja saat masih sehat, tidak ada yang menyadari, betapa berharganya nilai kesehatan mereka. Manusia sebagai ciptaan Tuhan memang sangat sempurna. Ketika masih bayi, semua orang langsung menyukai begitu melihat kita. Namun, seiring dengan pertumbuhan, kelucuan kita berkurang dan kecantikan kita juga memudar, bahkan jadi tambah jelek. Alasannya karena kita merusak tubuh kita! Sementara itu, dunia kita juga sudah sangat tercemar akibat ulah manusia, dan kita semua hidup dalam dunia yang sudah sangat beracun! Ketika tubuh dan jiwa kita terus diracuni dan dirusak dalam jangka waktu yang lama, tentu saja sulit untuk menghindarkan diri kita dari penyakit.

Hampir semua orang memendam keluhan kalau masyarakat kita tidak adil. Memang benar ada orang yang menang lotere, ada yang kaya sekali, ada juga yang menduduki jabatan tinggi. Tapi ada juga orang yang tidak mampu mengisi perut mereka tiga kali sehari, atau yang keluarganya berantakan, atau yang penyakitnya sudah tak ada harapan pulih. Namun demikian, ada empat hal yang sangat adil untuk semua orang, yaitu dilahirkan, menjadi tua, sakit lalu mati. Tidak peduli apakah anda Wang Yongqing (Dewa Bisnis Taiwan), Chen Shuibian (Mantan President Taiwan), Confusius, Sun Yat Sen (Pendiri Republik Tiongkok) dsbnya, semua akan melalui empat tahap kehidupan ini tanpa kecuali. Adapun mati – meskipun kita semua akan mati – ternyata ada berbagai cara untuk mati. Ada bunuh diri, karena sakit, kecelakaan, atau mungkin mati dalam perang. Ada kematian yang sangat mulia, ada juga yang tidak ada arti sama sekali. Adapun apakah kita bakal mati dengan tenang dan damai, atau mati penuh penyesalan, menurut pendapat saya, sepenuhnya ada di tangan kita masing-masing!

Ketika mengetahui saya terkena kanker, seperti reaksi orang pada umumnya, pertanyaan pertama saya adalah, “kenapa saya?” Setelah itu timbul rasa takut kalau saya akan segera mati! Ini sebenarnya hal yang lumrah. Karena sampai saat itu kita selalu sehat, juga tekun dalam pekerjaan dan tidak melakukan hal-hal yang melanggar hati nurari, saya merasa masih ada banyak hal yang belum terselesaikan dan masih pengin menikmati hidup ini. Saya benar-benar tidak rela untuk mati! Tuhan sungguh tidak adil kepada saya. Begitulah, dalam hatimu penuh keluhan! Namun, di sisi lain kamu juga merasa takut, karena malaikat maut terasa semakin mendekati dan kamu pun tenggelam dalam rasa takut yang mengerikan yang tak pernah kamu alami sebelumnya. Kamu tidak tahu harus berbuat apa. Kamu kehilangan pikiranmu. Pokoknya sedang sakit parah jadi langsung saja ke dokter yang ada. Atau tanpa pikir panjang, begitu dokter bilang harus operasi, atau kemo, atau radiasi, langsung kamu setujui. Keinginanmu pokoknya tumor itu harus dibuang sesegera mungkin, dan semua sel kanker yang ada dalam tubuhmu harus dibunuh habis. Kamu sangat yakin bahwa semakin cepat dirawat, semakin cepat kamu akan aman dan bisa cepat terhindar dari kematian.

Namun, terkena kanker itu asal mulanya bagaimana sih? Kenapa kanker itu bisa tumbuh dalam tubuh saya?

Kamu mengeluh dan semakin takut, tapi kamu tidak akan bisa temukan jawaban bahwa ini bukan akibat kesalahanmu. Karena tidak ada seorang pun di dunia ini yang bisa menjawab kamu. Kenapa dokter harus mengoperasi, melakukan kemoterapi atau radiasi, padahal mereka sendiri tidak tahu bagaimana kanker itu bisa tumbuh? Mereka hanya ingin cepat-cepat memotong buang atau segera melakukan kemoterapi atau terapi radiasi yang sangat beracun biar bisa membunuh sel kanker. Tapi apakah mereka berhasil? Kalau mereka benar-benar berhasil, mengapa tingkat kematian kanker berada di urutan puncak dalam daftar 10 besar angka kematian? Di Taiwan sini muncul satu penderita kanker baru setiap tujuh menit, dan ada empat puluh ribu kematian akibat kanker per tahun. Ini jelas menunjukkan bahwa metode pengobatan kanker saat ini belum sempurna dan penuh kekurangan.

Kamu mengeluh dan semakin takut. Jika pengobatan tidak sempurna dan tidak ada jaminan, mungkin kamu terus berpikir, “bukankah itu berarti satu-satunya pilihan adalah mati?” Tentu saja yang namanya mati tidak bisa kita hindari. Perbedaannya cuma kapan waktunya, tak lama lagi atau masih jauh di kemudian hari. Bukankah sebelum ini kita sudah bahas bahwa pada akhirnya kita semua juga menuju kematian? Jika sampai saat ini kamu masih salahkan langit mengutuk bumi, berwajah muram sepanjang hari, tidak makan, tak bisa tidur dan khawatir melulu, maka kamu memang ditakdirkan untuk mati! Sebaliknya, kalau kamu bisa melepaskan kecemasan itu, membuka pikiranmu, dan menerima kenyataan, maka kamu bisa tentram. Seperti apa yang sering diungkapkan Master Sheng Yen (圣严法师) : “Ketika menghadapi kesulitan hidup, selesaikan dengan mengikuti empat langkah: hadapi, nerima, tangani, lepaskan! ” Masuk akal? Tidak! Kamu mungkin berkata: “Memang kamu yang terkena kanker? Tentu saja kamu tidak bisa rasakan .” Baiklah, sekarang sebagai seorang dokter, juga sebagai pasien kanker, sependerita dengan kamu, saya akan berbagi pengalaman.

Ketika saya temukan bahwa saya menderita kanker, saya juga melewati tahapan marah, panik, ngeri, dan takut sekali. Saya ingat setelah dibilangi saya menderita kanker usus besar stadium tiga, saya merasa sudah sempat mati selama 48 jam. Dalam 48 jam itu, pikiran saya kosong, tidak tahu harus berbuat apa, tak perduli makan minum. Tapi hal pertama yang saya lakukan setelah saya tersadar adalah menulis surat wasiat saya. Sifat saya selalu berani maju ke depan. Setelah selesai menulis surat wasiat, saya terus ke rumah sakit dan mempersiapan diri untuk menerima pengobatan.Untungnya, saya telah memilih Pusat Pengobatan Kanker Yayasan Sun Yat Sen (和 信 治疗 中心 – Hexing Cancer Care Center), di mana mereka memberikan perawatan terbaik yang ada sampai saat itu dengan metode CCRT, atau kombinasi antara chemo dan radiation therapy sebelum dioperasi, dan metoda ini memberikan hasil terbaik. Sementara tinggal di rumah sakit, sambil berbaring di tempat tidur saya tidak putus asa menyalahkan nasib, tapi saya secara aktif membaca semua referensi yang berkaitan dengan kanker. Saya kemudian menemukan bahwa ada begitu banyak pejuang anti kanker di luar sana seperti Dr Li Feng, Dr Mei Xiangyang, Anggota Dewan Jin Sumei, Ms Li Qiuliang dll. Di samping itu ada juga begitu banyak metode pengobatan seperti Meimen Qigong. Masih ada lagi vaksin, Linzi, RH2 Ginsen, Air elektrolisis, Ke Lin Qigong, pijat telapak kaki, senam handuk, dll. Ketika saya dapatkan informasi lebih lanjut tentang kanker kekhawatiran saya berkurang. Alasan saya, kayaknya bukan cuma jalan mati saja, tapi tampaknya masih ada banyak alternatif yang bisa saya pilih.

Meskipun saya adalah seorang ahli bedah saraf yang sangat berpengalaman, begitu jatuh sakit saya juga tak lebih hanya seorang pasien. Setelah membaca belasan buku, sementara berbaring di tempat tidur rumah sakit, saya mulai mengingat pengalaman klinis saya. Tiba-tiba saya menyadari, kanker ternyata hanya penyakit kronis yang tidak akan membunuh langsung kamu. Tetapi orang meninggal akibat kanker karena kekebalan badan menurun. Kekebalan menurun berasal dari rasa takut, kecemasan, kurang tidur, nutrisi yang tidak memadai, efek sampingan dari perawatan, dll. Sel kanker pada mulanya adalah sel normal, namun, setelah mendekam dalam lingkungan beracun dalam jangka waktu yang lama, mereka terus bermutasi menjadi sel kanker. Lingkungan beracun pada dasarnya berasal dari makanan dan minuman kita, udara yang kita hirup, dll. Makanya tindakan pertama untuk menghindari kanker adalah mengubah lingkungan beracun. Ketika dokter memberikan kemoterapi maupun operasi tujuannya hanya untuk menyembuhkan kanker. Bila tak ada perubahan lingkungan penyebab kanker, maka kankernya bakal timbul lagi . Biasanya penderita yang diobati dalam Kedokteran Barat tidak bakal dibilangi dokternya, karena dokter Barat juga tidak mengerti. Apalagi pemikiran dokter Barat biasanya menganggap pengobatan mereka selalu berdasarkan pada metode ilmiah, dan akan meremehkan semua metode pengobatan atau resep alternatif. Tapi dari pengamatan saya pengobatan kanker dalam Kedokteran Barat biasanya akan kambuh lagi dalam waktu yang singkat. Begitu kambuh dokternya kehilangan akal. Yang bisa mereka lakukan adalah menawarkan berbagai obat beracun atas nama kemoterapi untuk mengobati pasien. Namun dokter sesungguhnya tahu bahwa kemoterapi hanya menunda waktu! Sewaktu menjalani pengobatan di rumah sakit saya melihat bahwa orang yang menerima kemoterapi sebenarnya juga berjalan menuju kematian saat menerima pengobatan. Kemoterapi itu sendiri tidak hanya sangat menyakitkan, tetapi juga merusak sistem kekebalan tubuh pasien, dan selain beberapa kasus kanker khusus, efektivitas kemoterapi sangat terbatas.

Hampir setahun telah berlalu sejak saya terserang kanker (darah dalam tinja – Januari 2003) dan sudah delapan bulan sejak awal pengobatan saya. Selama periode ini, informasi lebih lanjut semakin tersedia dan hal itu meningkatkan kepercayaan diri saya dalam memerangi kanker. Apalagi setelah bergabung dengan Meimen Qigong, selain melakukan latihan Qigong setiap hari, saya juga menerima ajaran spiritual dan moral dari Suhu Li Fengshan yang memberi saya keberanian untuk menolak operasi. Keputusan ini sangat penting, karena setelah operasi fungsi anus hilang dan akan digantikan dengan anus buatan. Itu berarti saya akan sibuk dengan urusan buang air besar setiap hari dan bahkan menjadi orang yang setengah cacat . Setelah berlatih Qigong dan menjadi seorang vegetarian selama satu bulan, saya pergi periksa ke rumah sakit dan ternyata tumor saya sudah hilang. Hasil CEA (Carcino Embryonic Antigen) saya turun dari 29 – 0,9 atau kanker itu sudah tak ada. Karena latihan Qigong, kesehatan saya juga menjadi lebih baik, bahkan lebih baik daripada sebelum saya jatuh sakit. Sedangkan alas an untuk operasi adalah, lewat operasi, sel-sel kanker yang masih tersisa bisa dikikis habis untuk mencegah mereka muncul lagi. Namun, berdasarkan 250 sampel dari Rumah Sakit Hexing, tingkat kelangsungan hidup setelah 5 tahun setelah operasi adalah 80%, tetapi tanpa operasi 90% meninggal karena kekambuhan. Itu sebabnya para dokter mempunyai alasan yang cukup untuk menyarankan saya supaya dioperasi. Sayangnya operasi tidak hanya akan membuat saya menjadi cacat, tetapi akan menghancurkan sistem kekebalan tubuh saya, dan tidak menjamin bahwa kankernya tidak bakal kambuh. Selain itu, pertumbuhan kanker berasal dari faktor lingkungan dan kesehatan pribadi. Kenapa saya harus operasi? Ketika saya memutuskan untuk tidak operasi, baik keluarga dekat, teman, dan dokter di Rumah Sakit Hexing sangat terkejut. Mereka terus menerus sarankan, bahkan ada yang mengancam saya untuk operasi. Namun keputusan saya sudah bulat. Saya tidak membabi buta memutuskan atau buru-buru membuat keputusan ini, tetapi melalui pertimbangan yang matang. Setiap penderita kanker yang ingin hidup harus punya pengertian yang mendalam dan bisa membuat keputusan terbaik untuk diri sendiri. Seperti apa yang diajarkan suhu: “Keputusan keluar dari hati Anda. Anda adalah penguasa dari diri sendiri “. (心中 有 主, 主 就是 主张) Keputusan sendiri bisa menjadi suatu kekuatan luar biasa untuk diri anda sendiri.

Dari pengalaman pengobatan kanker saya, boleh dibilang sangat santai. Salah satu dorongan utama untuk itu adalah kata-kata “Wu Ju – 无 惧” atau tidak takut! Sejak selesai menulis surat wasiat saya, kematian sudah bukan sesuatu yang menakutkan. Saya merasa seperti tokoh utama dalam filem “Hero” yang mengetahui bahwa ia akan mati dan menghadapi kematiannya seperti seorang martir yang menganggap mati ibarat pulang kampung saja. Bila kamu tidak takut, sebaliknya kamu tidak bakal merenungkan kematianmu lagi, tetapi akan secara aktif terus mengingatkan dirimu setiap hari bahwa “hidup ini begitu berharga dan kamu akan menjalani hidup ini sebaik mungkin.” Setengah tahun setelah keputusan saya untuk menolak operasi, *** saya telah lakukan hal-hal berikut ini sebagai referensi untuk kalian yang juga terkena kanker:

  1. Hidup secara normal, tidur dan bangun pagi biar semangatnya baik.
  2. Kurangi beban kerja, kurangi stres yang tak perlu.
  3. Minum air elektrolisis dari AQ-100 Long Life.
  4. Makan yang sederhana utamakan buah-buahan, sayuran dan makanan vegetarian organik dengan mengikuti prinsip ‘4 rendah 1 tinggi,’ rendah protein, rendah lemak, rendah gula, rendah sodium dan tinggi serat. Sedapat mungkin makan makanan alami, jangan makan makanan yang sudah diproses.
  5. Praktek Meimen Qigong selama dua jam setiap hari.
  6. Makan ramuan tradisional yang khasiatnya sudah terbukti lewat hasil penelitian ilmiah seperti Tian Xian Yu (天仙液), Makanan Sel ATP (ATP細胞食物), propolis lebah Brasil, dll.
  7. Bertekad and berkaul untuk berbuat sesuatu yang bermanfaat buat sesama.

Banyak juga teman dan kerabat yang menawarkan berbagai suplemen dan obat-obatan, tapi pada umumnya tidak saya pakai. Pertama, karena mahal dan kedua karena tidak ada bukti jelas. Apalagi kondisi tubuh saya semakin membaik, hasil pemeriksaan CEA juga rendah, dan tidak ada alasan untuk membeli obat-obatan yang mahal. Bagi saya, perjuangan melawan kanker bukan saja santai tetapi juga menghemat. Saya tidak anti pengobatan rumah sakit, tetapi harus tahu kapan mesti berhenti. Kalau cuma menjalani pengobatan rumah sakit tanpa merubah lingkungan yang beracun, saya pastikan perlawanan terhadap kankermu akan gagal. Sebaliknya kalau dalam proses pengobatan juga lingkungan beracunmu dirubah, dan kesehatanmu makin membaik, bahkan tumornya mengecil atau hilang sama sekali, maka itu saatnya untuk hentikan pengobatan. Kalian kalau terkena kanker (maksudnya 100% kanker dan bukan 99%, artinya ada hasil pemeriksaan dan laporan dokter yang menunjang), bisa hubungi saya. nsshu@tpts8.seed.net.tw, HP: 0910743919.

(Catatan drt: kalau mau hubungi, harus dalam bahasa Mandarin, Hokkian atau bahasa Inggris. Jangan lupa tambahkan code negara untuk nomor HP di atas. )

Disclaimer: Surat di atas saya terjemahkan untuk berbagi informasi dengan anda tentang keberhasilan Dr. Shu dalam upaya beliau memerangi kanker usus besar. Sewaktu beliau menolak untuk dioperasi, oleh teman-teman sejawatnya, diramalkan bahwa paling lama beliau tidak akan hidup lebih dari 3 tahun. Tapi kenyataannya sampai saat saya terjemahkan surat ini ke dalam bahasa Indonesia, beliau sudah melewati tahun ke 9. Untuk kondisi medis anda atau keluarga anda, JANGAN terapkan apa yang tertulis di sini TANPA KONSULTASI dengan dokter anda.

{ 1 comment… add one }
  • Sahril March 6, 2018, 6:41 pm

    Very inspiratif

Leave a Comment