Seribu Kunang-Kunang dan Setumpuk Kenangan

by drt on February 22, 2014

Akhir-akhir ini, saya sering melihat nama ibu Yus Kayam di wallnya ibu Belinda Gunawan di Facebook, setelah saya temukan dan menjadi teman FB ibu Belinda yang setahu saya, dulu adalah seorang editor di majalah Gadis.

Setiap melihat nama itu, saya langsung teringat tulisan-tulisan pak Kayam almarhum, terutama Seribu Kunang-Kunang di Manhattan, atau ceritera tentang Chihuahua, dan wanita kulit putih yang senang Yoga. Seingat saya ada dua tiga cerpen, tapi lupa dua judul lain. Mungkin Chihuahua dan wanita yang senang Yoga itu saya baca di Majalah Sastra Horison. Sedangkan buku Seribu Kunang Kunang itu seingat saya begitu melihat di toko buku Gunung Agung di Yogya, saya langsung beli. Oh iya, itu waktu zaman mahasiswa dulu.

Photo Courtesy: Free Digital Photos

Photo Courtesy: Free Digital Photos

Saya senang dengan ide, kunang-kunang yang disamakan dengan lampu-lampu di Manhattan, atau seribu kunang-kunang yang bergantung di pohon terus digambarkan sebagai pohon natal. Bisakah anda bayangkan?

Saya juga senang sekali dengan gaya berceriteranya pak Kayam, dan entah mengapa, potongan tentang tidur telentang bertelanjang badan di dasar kolam, kemudian melihat diri dari atas bisa begitu melekat di otak saya. Itu gambaran yang luar biasa. Setiap melewati kolam renang di musim panas bertahun-tahun kemudian sesudah kami tinggal di Amerika sini pun, saya masih suka ingat akan gambaran itu. Pokoknya senang deh dengan gaya berceritera pak Khayam.

Lucu memang, sekarang apa yang saya makan kemarin sore saja sudah sering lupa, tapi sepotong gambaran itu bisa melekat sekali di otak.

Bukan karena badan telanjangnya, sungguh mati! :D

Edisi Inggris

Edisi Inggris

Tapi ide kamu bisa tidur telentang sekaligus bisa tinggalkan badanmu di dasar kolam lalu melihat kembali dirimu dari atas, sangat menggugah. Bahkan sampai sudah empat puluh sekian tahun pun, masih tersisa dalam ingatan. Bukankah itu pengungkapan luar biasa yang terpatri dalam ingatan orang lain, paling tidak untuk saya?

Satu yang saya tak mengerti waktu pacaran dulu adalah, kenapa sudah susah-susah dibawakan dari Yogya ke Pekalongan buku cerpen Seribu Kunang-Kunang di Manhattan, tapi minggu berikutnya setelah baca, pacar saya malah tidak berterima kasih tapi cemberut dan mendelik saya. Seakan dia mau bilang, kenapa kasih dia buku itu? Sayangnya saja karena banyak urusan lain, ceritera tentang buku itu tak pernah diungkit lagi. Belasan tahun kemudian, sepulang ke Pennsylvania dari satu ‘job interview’ yang gagal di Manhattan di tahun 92, saya omong tentang lampu-lampu di Manhattan, mantan pacar saya dingin-dingin saja, dan tidak menanggapi sama sekali.

Tadi buka FB lihat ada komentar ibu Yus Kayam di wallnya ibu Belinda lagi. Ingat pak Kayam, saya lalu google dan ketemu naskah Seribu Kunang-kunang di Manhattam di sini. Saya tak tahu yang taruh file itu di sini ini siapa? Apakah dapat izin dari penerbit atau ibu Yus Kayam ataukah ini ditaruh putra-putri pak Kayam sendiri ya?

Nah, setelah baca lagi, baru saya mengerti. Oh, adegan tidur di dasar kolam itu sebenarnya di dasar laut, kemudian melihatnya dari atas sampan toh?

Tapi eh, kesan paling dalam setelah baca lagi cerpen itu membuat saya tersipu sendiri. Betapa bego saya waktu pacaran dulu? :D

Terang saja Winnie tidak akan senang urusan seorang suami ketemu janda kesepian jauh di negeri orang. Sudah mabuk-mabukan, duduk bareng di sofa, malah ada urusan belikan payama lagi dan tahu persis ukurannya. Medium large. Marno, Marno,.., eh, Aris, Aris! :D

Maaf, ibu Kayam. Ini bukan kritikan. Saya pikir itu kehebatan ceritera pak Kayam yang bisa mempengaruhi pembacanya berdasarkan siapa pembacanya. Luar biasa!

Saya juga lalu mengerti, barangkali kebebalan itu sebabnya, kenapa saya tidak bisa menulis cerpen dan mengungkapkan perasaan sebaik dalam cerpen-cerpen mantan pacar saya dulu. :D Now, I know! (Oops, maksud saya, saiki kulo sampun ngertos, :D alias sekarang saya jadi mengerti — sebelum dikritik pembaca kalau bahasa saya bahasa gado-gado.)

Sayangnya, saya masih mumet, kapan dan bagaimana ya saya bisa temukan lagi naskah-naskah cerpen mantan pacar saya dulu? ***

Last modified: February 23, 2014

{ 2 comments… read them below or add one }

Belinda Gunawan February 22, 2014 at 6:33 pm

Aris, catatan ini menarik. Saya suka cara Anda mengaitkan pengalaman membaca buku Mas Kayam dan kecemburuan pacar Anda. Cara menulis Mas Kayam memang unik, kaya akan imagery dan metafora. Begitu memikatnya hingga teringat terus isi ceritanya, bahkan terbayang-bayang salah satu adegannya. Saya tersenyum membayangkan, lama sekali Anda baru ‘ngertos’, kepekaan seorang perempuan…

drt February 22, 2014 at 7:28 pm

Iya benar, bu Belinda. Saya terlalu pentingkan gaya penuturan pak Kayam sampai lupa akan isi ceriteranya. Bertahun-tahun saya cuma bicara tentang ide seribu kunang-kunang, pohon natal, pisahkan badan dan jiwa, tapi sama sekali tak peduli dengan tokoh perempuan yang setengah mabuk itu. :D Nanti malam waktu pulang akan saya ceritera ke Winnie, tapi pasti dia akan bilang, itu tambah lagi buktinya, kalau saya memang ‘bego’ urusan perasaan wanita. :D Oh, iya. Terima kasih buat komentarnya, bu Belinda.

Leave a Comment

Previous post:

Next post: