Delima banyak manfaatnya bagi kesehatan dan itu sudah sempat saya tuliskan bulan November yang lalu.
Barusan saya temukan lagi info yang berkaitan dengan sirup delima dan kesehatan jantung sewaktu saya membacai buku Reverse Heart Disease Now: Stop Deadly Cardiovascular Plaque Before It’s Too Late--nya Dr. Stephen T. Sinatra dan Dr. James C. Roberts. Sebagai penderita tekanan darah tinggi, tentu informasi ini menarik perhatian. Makanya saya tuliskan di sini sekedar untuk berbagi informasi ini dengan pembaca blog saya.
Menurut Dr. Sinatra dan Dr. Roberts, Delima termasuk salah satu sumber yang kaya dengan antioxidant flavonoids, sumber nutrisi penyembuh yang ditemukan dalam tumbuh-tumbuan. Baru-baru ini para peneliti dari Israel menemukan bahwa komponent-komponent ini bisa memperlambat pembentukan atherosclesis plaque dalam tikus dan manusia.
Di tahun 2004, mereka melakukan penelitian dengan 10 orang pasien penderita carotid artery disease yang parah yang harus minum 8 ounces sirup delima 100% setiap hari selama satu sampai 3 tahun. Di ujung penelitian, mereka bandingkan hasil mereka dengan grup yang tidak meminum sirup delima. Hasilnya sangat mengejutkan, karena mereka temukan bahwa:
- tekanan systolic peminum sirup delima turun sekitar 20%
- pengurangan sebanyak 19% antibodi LDL yang teroksidari (oxidized LDL antibodies)
- penurunan ketebalan dinding carotid artery sebanyak 30% dibandingkan dengan penambahan ketebalan bagi grup kontrol sebanyak 9%
Karena selama penelitian ini kedua grup, yaitu peminum sirup dan yang tidak meminum sirup terus memakan obat mereka, maka kesimpulan para peneliti ini adalah, sirup delima nampaknya penyebab dari perubahan ini dan menjanjikan manfaat bagi penderita penyempitan pembuluh darah.
Saya sendiri bukan dokter medis, sehingga istilah terjemahan saya mungkin tidak sesuai dengan istilah kedokteran. Tapi tujuan saya sekedar untuk berbagi informasi ini, maka itu saya berikan link ke sumber artikel itu, dan terimakasih sekali kalau ada teman-teman dari bidang kedokteran yang bersedia mengoreksi bila ada kesalahan terjemahan.
Abstract article penelitian sirup delima itu bisa ditemukan di sini, sedangkan artikel lengkapnya dalam format pdf bisa ditemukan di sini. Semoga teman-teman yang bekerja di bidang kedokteran bisa memanfaatkan literatur ini.
Yang saya tidak mengerti bagaimana cara mendapatkan sirup delima dengan konsentrasi 100%?
Kalau sirup jeruk saya bisa bayangkan, tapi untuk delima, apa ada alat pemeras delima ya?
Sedangkan buat teman-teman yang ingin mengikuti jalannya operasi pencegah stroke, barusan saya temukan video ini. Mudah-mudahan anda sekalian bisa menikmatinya.
Popularity: 1% [?]



{ 2 comments… read them below or add one }
Terima kasih Bung Aris untuk tulisan tentang Delima ini. Nama latinnya adalah Punica granatum yang banyak sekali varietas (subspesis)nya tergantung di negara/daerah mana delima dibudidayakan. Kulit buah dan kulit pohon delima telah lama dikenal untuk digunakan sebagai obat tradisional untuk diare, disentri dan infeksi amuba pada saluran cerna. Juga digunakan untuk menghentikan mimisen, perdarahan gusi, tonikum untuk kulit dan kegunaan lain. Sedangkan jus punica granatum telah banyak dilaporkan sebagai penguat otot jantung, mengobati wasir, memperkuat saluran nafas. Nutrien dan bahan bermanfaat yang terdapat dalam buah delima sangat bervariasi tergantung jenis (varietasnya) tetapi pada umumnya mengandung: serat dalam jumlah yang cukup besar, vitamin C, vitamin B5, mineral seperti kalium (potassium), anti-oksidan dan mikronutrien.
Kandungan lain adalah tanin (punikalagin) yang khas pada delima dan berfungsi sebagai anti-oksidan yang kuat walaupun efektifitasnya dalam tubuh manusia belum dapat dibuktikan. Masih banyak sekali kandungan bahan fitokimia yang terdapat dalam buah delima dan semuanya terutama berhubungan dengan fungsi sebagai anti-oksidan. Tentu semuanya memerlukan penelitian-penelitian agar dapat ditemukan bukti ilmiah yang dapat diterima untuk penggunaannya secara baik dan benar. Semoga tambahan ini bisa melengkapi tulisan Bung Aris.
Makasih Om Dokter atas informasi tambahan ini. Tadi waktu mempersiapkan tulisan ini, saya temukan ada beberapa artikel dalam format pdf yang bisa didapatkan secara cuma-cuma. Setelah membaca ini saya lihat ke sana lagi dan ada informasi mengenai Tanin yang om Rihi sebutkan. Seandainya om Rihi butuh referensi itu, silahkan email dan saya akan forward artikel tersebut.
Begitu juga kalau ada teman-teman dokter lainnya yang butuhkan referensi itu, silahkan tinggalkan alamat email (yang tidak akan ditampilkan ke umum) di kotak komentar, dengan catatan butuh artikel mana dan saya akan forward artikel tsb.
Ke tujuh artikel yang saya maksudkan itu adalah:
Dell’agli M, Galli GV, Bulgari M, Basilico N, Romeo S, Bhattacharya D, Taramelli D, Bosisio E.
Malar J. 2010 Jul 19;9:208.PMID: 20642847
Rasheed Z, Akhtar N, Anbazhagan AN, Ramamurthy S, Shukla M, Haqqi TM.
J Inflamm (Lond). 2009 Jan 8;6:1.PMID: 19133134
Shukla M, Gupta K, Rasheed Z, Khan KA, Haqqi TM.
Nutrition. 2008 Jul-Aug;24(7-8):733-43. Epub 2008 May 19.PMID: 18490140
Seeram NP, Aronson WJ, Zhang Y, Henning SM, Moro A, Lee RP, Sartippour M, Harris DM, Rettig M, Suchard MA, Pantuck AJ, Belldegrun A, Heber D.
J Agric Food Chem. 2007 Sep 19;55(19):7732-7. Epub 2007 Aug 28.PMID: 17722872
de Nigris F, Williams-Ignarro S, Sica V, Lerman LO, D’Armiento FP, Byrns RE, Casamassimi A, Carpentiero D, Schiano C, Sumi D, Fiorito C, Ignarro LJ, Napoli C.
Cardiovasc Res. 2007 Jan 15;73(2):414-23. Epub 2006 Sep 1.PMID: 17014835 [PubMed - indexed for MEDLINE]Free ArticleRelated citations
Seeram NP, Henning SM, Zhang Y, Suchard M, Li Z, Heber D.
J Nutr. 2006 Oct;136(10):2481-5.PMID: 16988113
Kaplan M, Hayek T, Raz A, Coleman R, Dornfeld L, Vaya J, Aviram M.
J Nutr. 2001 Aug;131(8):2082-9.PMID: 11481398
Sekali lagi terima kasih om dokter.
Aris/