≡ Menu

Sop Kaki Palsu

Lagi-lagi, ini ceritera lama dan sekali lagi berita duka.

Yang pasti, ini kejadian di awal tahun 80an, ketika sebagian besar waktu saya saya habiskan di gedung Pasca Sarjana Opto-elektroteknika dan Applikasi Laser Universitas Indonesia di kampus Salemba. Sebuah gedung di belakang Fakultas Ekonomi, dekat ke tembok belakang kampus Salemba.

Suatu sore, sewaktu di atas jembatan penyebrangan di depan kampus, sahabatku Ham menunjuk ke tenda warung kakilima di bawah jembatan dan bilang ke saya:

“Ris, kalau ada sop kaki asli, tentu ada sop kaki palsu. Gimana ya, rasanya sop kaki palsu?”

Itulah kenangan saya akan kata-kata yang diikuti dengan senyuman khas di wajah teman saya Ham, yang kalau sedang bekerja selalu nampak serius. Tetapi sesekali kalau dia sempat menyeletuk, dia akan membuat anda tersenyum kecil seperti kala saya membayangkan kaki palsu dan sop kaki palsu mendengar komentar dia di atas jembatan penyebrangan di depan kampus waktu itu. Di balik keseriusan dia selalu ada kejenakaan yang hanya akan terlihat buat orang-orang di sekelilingnya.

Dalam tulisan kenangan mengenai pertama kali saya mendarat di Jepang, saya tuliskan:

Seingat saya, Prof. Emori dan muridnya, mas Hamdani yang mengantarku ke pesawat yang menuju Chitose Airport di Sapporo.

Itu pertemuan saya dengan mas Hamdani, anak Aceh yang kalau di kampus Selamba sekarang pasti lebih dikenal dengan sebutan Dr. Hamdani Zain, tepatnya 30 tahun yang lalu. Banyak sekali kenangan bersama beliau dan keluarga beliau selama kami sama-sama di Jepang maupun setelah kembali ke Jakarta. Walau tidak sekampus, beliau di Chiba dan saya di Sapporo, tetapi karena berasal dari satu padepokan di Salemba 4, maka hubungan kami cukup dekat. Setelah di Jakarta kami berdua masih sempat bekerja sama selama 3 tahun di Salemba maupun di Jalan Sudirman, sebelum akhirnya saya hengkang ke Salatiga. Makanya awal tahun 2007 pertama kali mendengar beliau terserang stroke, saya kaget sekali. Ketika menulis tentang urusan stroke itu memang saya tidak menyebutkan namanya. Berkali-kali saya coba telpon, tetapi karena perubahan nomor telpon Jakarta dari 6 digit menjadi 8 digit, akhirnya dalam kesibukan, niat itu belum kesampaian, sampai minggu lalu tiba-tiba saya mendapat email berikut dari Prof. Sardy dari UI:

Sdr. Rekan sejawat,

Telah meninggal dunia rekan kita: Dr. Hamdani Zain minggu yll di Rumah Sakit Islam Cempaka Putih. Semoga arwah beliau diterima disidiNya. Amin Mohon disampaikan kepada rekan yang belum mengetahuinya. Terima kasih Sardy

Saya hanya tepekur membaca email itu dan berbisik, selamat jalan Ham, dan semoga engkau telah diterima di tempat yang layak di sisi Tuhan yang maha pengasih dan penyayang.

Baru beberapa hari yang lalu saya kehilangan seorang sahabat. Tiba-tiba saja, saya menyadari, kalau teman-teman saya dan saya sendiri, saat ini telah mengganti mereka yang dulu kami anggap orang tua atau angkatan tua.

Itu yang saya katakan, setelah akhirnya lewat telpon ke sana-sini dan tanyakan ke berbagai nomor telpon di kampus Salemba, akhirnya saya bisa menemukan nomor telpon ibu Yus, dan sempat menyampaikan rasa duka atas kepergian teman saya dan suami ibu Yus.

Seorang teman hari ini kirim email bilang, mati hidup kita berada di tangan Tuhan. Benar, saya tak sangkali itu. Tetapi melihat teman-teman dan sanak family yang sudah pulang duluan, tiba-tiba terbayang lagi dedauan kering di musim gugur,….

Dedaunan kering,
pada melayang,
terbawa angin,
entah kemana.

Begitu juga wajah teman-teman dan sanak family. Bagaikan album berisi foto hitam putih, wajah-wajah itu pada memudar, dan menghilang dalam kekelabuan senja. Tentu saja bedanya dengan daun kering, kita semua selalu percaya bahwa mereka yang mendahului kita telah berada di tempat yang laiak di sisi Tuhan.

Selamat jalan sahabatku, selamat istirahat dalam kedamaian abadi. Semoga Tuhan memberikan kekuatan dan kedamaian buat ibu Yus dan anak-anak.

{ 7 comments… add one }
  • SJ April 3, 2008, 8:15 pm

    Saya juga kenal atau kenal baik Dr. Hamdani, walaupun tidak berkesempatan kerja bersama beliau sekantor. Kesan saya terhadap beliau, seperti yg dibahas di tulisan ini “sop kaki palsu”, dengan senyumnya, wajahnya, dan kata2 reaksi spontannya, saya rasa beliau ini sangat cerdas. Saya kerja di organisasi yg pegawainya berasal dari macam2 tempat, rasanya orang Indonesia (tentunya juga Aceh), tidak kalah cerdasnya, cuma …., orang2 cerdas ini tidak punya kesempatan berkembang jadi terkenal di kelas dunia (dlm bidang masing2) karena alam lingkungan di tanah air …..

  • rabs April 7, 2008, 2:30 am

    Bertemu dengan Dr. Hamdani pertama kali, 32 thn yang lalu. Beliau dari FIPIA fisika. Kebetulan pembimbing tugas akhir Bsc nya sama jadi saya dan beliau tugas akhirnya digabung jadi satu. Kemudian yang mendapatkan kesempatan ke jepang duluan adalah beliau dan teman sekelas saya yang satunya lagi yang kerja di NASA sampai saat ini. Kesan saya dengan kecerdasan beliau memang sangat unik sekali. Untuk theoretical knowledge beliau bener2 top, saya rasa karena background beliau adalah fisika murni. Kemudian thn berikutnya saya punya kesempatan bergabung lagi dengan beliau di Chiba Univ. JPN. Jadi bener2 kami saling membantu, kerja sama dlm penelitian ilmiahnya, dsbnya. Beliau adalah salah satu teman curhat saya juga waktu itu.

  • Maliki Jayakirana August 14, 2008, 10:38 pm

    Kenang-kenangan berjalan dengan boss di kakilima Salemba
    INNA LIHAHI WA INNA ILAIHI ROJIUN
    Seorang boss yang menyandang gelar S2 berjalan kaki bersama anak buahnya sambil bercakap-cakap mengenai keadaan seputar waktu itu, tahun 1982.
    “Ki, setiap duapuluh tahun negri ini selalu ada saja peristiwa besar, terakhir tahun enam lima, nanti apa yang terjadi tahun delapan lima’
    Itulah kata-kata almarhum yang diucapkannya sambil berjalan menuju halte bis dibawah jembatan penyeberangan di depan UI Salemba.
    Saya tak punya kata-kata untuk menanggapinya, saya terus berpikir, apa iya negri ini seperti yang beliau ucapkan. Moga-moga saja peristiwa-peristiwa besar selanjutnya bikin maju negri.
    Saya tercenung sedih membaca tulisan Pak Aris Tanone bahwa beliau telah tiada. Terus terang saya merasa kehilangan seorang boss yang tetap seorang boss bagi saya secara batiniah dan walau kami telah berpisah, saya menjadikan beliau tempat bertanya apabial saya perlu, karena saya yakin beliau tetap mau menerima saya dan memberi nasehat-nasehat.
    Selamat jalan boss, sampaikan salamku kepada Rasulullah.
    Maliki Jayakirana

  • drt August 14, 2008, 11:03 pm

    Makasih atas komentarnya bung Maliki. Baca kenangan anda, saya kembali teringat akan senyuman teman saya yang ramah. Betul, itu sekitar tahun 82, lebih dari seperempat abad yang lalu ya. Semoga anda dan keluarga sehat-walafiat semua. Salam dari Amerika.

  • Lanjar Mulyono May 4, 2013, 12:40 pm

    Inna Lillahi Wainna Ilai Rojiun…..udah lebih dari 12 tahun gak bertemu dengan Pak Hamdani…banyak kesan yang saya ingat terutama jika beliau menerangkan perkembangan teknologi ke depan yg sekarang sudah banyak jadi kenyataan dan juga keramahan,kesederhanaan dan kecerdasan beliau . selamat jalan Pak Hamdani semoga Allah menempatkan tempat yang terbaik buat Bapak..Amin Ya Robbal Alamin…

  • Petrus Manoe May 5, 2017, 1:10 pm

    Ijin share Pak..
    Mksh

  • drt May 7, 2017, 6:00 pm

    Mohon dipasang link ke tulisan aslinya. Terima kasih!

Leave a Comment