Sudah tua begini, kenapa mesti pantang-pantangan lagi?

by drt on June 13, 2010

Begitulah komentar seorang teman ketika mendengar saya sudah ikut jadi vegetarian.

Sebenarnya sudah lama saya menjaga makanan. Soalnya, saya mengikuti latihan untuk menjadi instruktor ‘weight management program’ buat membantu mereka yang kegemukan mengatur berat badannya. Lha bagaimana mau mengajar orang lain menjadi lansing kalau perut sendiri buncit?

Makanya selama 3, 4 tahun terakhir, saya hanya makan makanan yang berglycemic-index rendah. Dengan demikian sehabis makan, kadar gula saya tidak akan melonjak dan akibatnya apa yang saya makan tidak akan disimpan dalam bentuk lemak. Dan ini sudah berjalan sekian lama tanpa kesulitan apapun. Berat badan saya juga sudah berkurang 20 pounds atau sekitar 10 kg semenjak saya menjaga makanan.

Kadang istri saya suka bertanya, bagaimana kalau kamu pulang kampung disuguhi makanan macam-macam? Jawaban saya, ya makan secuwil saja. :-) Tapi itu jawaban sebelum saya menjadi vegetarian.

Sekarang saya suka pikir, alangkah baiknya kalau waktu pulang kampung, bisa ke pasar dan beli sendiri bahan-bahan yang ingin saya makan? Karena kalau masak sendiri, saya bisa mengatur seberapa banyak garam yang dipakai, dan tidak perlu merepoti orang lain.

Tentu saja saya ingat makanan khas dari kampung halaman di Timor sana. Misalnya daging se’i, babi panggang yang kulitnya garing, sate kambing, bahkan sop buntut, dan berbagai masakan yang saya suka makan ketika kuliah di Yogyakarta dan setelah kerja di berbagai tempat. Saya juga ingat masakan Jepang, atau masakan Korea, dan tentu saja berbagai masakan Tionghoa yang dulu sering makan. Tapi itu tinggal kenangan sekarang.

Selain itu di sana juga ada gado-gado, lalapan dan berbagai sayuran. Di Timor juga ada bunga papaya yang jarang saya jumpai sejak di Jawa. Dan macam-macam lagi makanan tanpa daging yang bisa saya makan. Makanya saya pikir, lebih senang kalau bisa masak sendiri. Menurut istri saya ini bakal merepoti saudara-saudara saya di sana. Saya hanya bisa senyum kecut kalau diingatkan begitu.

Terus kenapa saya koq mau-maunya menjadi vegetarian? Alasannya sederhana. Tapi itu akan saya tulis dalam posting berikut.

Popularity: 1% [?]

Leave a Comment

Previous post:

Next post: