Feed on
Posts
Comments

Diskusi masalah polling selalu menarik. Karena statistik yang dibentuk adalah pendapat masyarakat. Dengan polling banyak informasi yang bisa kita peroleh misalnya 54 persen dari laki-laki dewasa (18-44 tahun) di US selalu memikirkan tentang sex paling tidak sekali sehari, atau survey oleh Roper menyebutkan kemungkinan satu dari lima puluh orang Amerika pernah di culik oleh UFO, atau kita bisa menurunkan kolesterol kita sebanyak sepertiga, menguatkan jantung, dan memperpanjang umur kita dengan menkonsumsi satu kaleng 7UP setiap harinya (Cynthia Crossen, Tainted Truth). Gawiser and Witt dalam bukunya A Journalist Guide to Public Opinion Polls, mengatakan kalau selalu ada hubungan antara media masa dan pendapat masyarakat. Karena polling mengukur apa yang di pikirkan oleh masyarakat, sementara apa yang dipikirkan masyarakat bisa dibentuk oleh media masa. Tetapi yang menjadi pertanyaan sejauh manakah hasil polling ini bisa dipercaya. Seperti pengakuan David Moore yang adalah senior editor dari Gallop poll, para peneliti tidak mengungkapkan semua yang terjadi dibalik hasil polling.

Seperti tulisan saya sebelum ini, apakah ada tujuan lain dibalik hasil polling pemilihan presiden yang saat ini sedang hangat. Hasil polling politik ini kadang-kadang menjadi penting karena ini adalah satu-satunya alat yang bisa digunakan untuk melihat kepopuleran seorang kandidat. Selain itu juga polling ini bisa di test hasilnya pada saat hari pemilihan umum nanti. Lalu apa sebenarnya tujuan polling politik? Ada beberapa hal, tetapi yang utama adalah untuk memprediksi siapakah yang akan menang dalam lomba politik ini. Ada hal lain yang kadang-kadang dilupakan, bahwa polling juga bisa digunakan untuk mempengaruhi opini masyarakat melalui media masa. Biasanya setelah hasil poll diumumkan, akan ada bandwagon effect. Dampak ini terutama terjadi pada voters yang tidak begitu mengikuti perkembangan politik, atau tidak memperoleh informasi yang cukup mengenai politik akan ikut-ikutan bergabung memilih kandidat yang sedang terkenal berdasarkan hasil polling.

Dalam tulisan sebelum ini, saya menyebutkan kalau hal yang pertama kita gunakan untuk melihat validitas survey adalah common sense. Dari beberapa literature yang saya baca sesungguhnya sulit untuk membandingkan dua hasil polling kalau kita tidak punya informasi tentang methodologynya. Karena kalau methodanya berbeda kedua survey tersebut tidak bisa dibandingkan. Secara sederhana tentunya yang kita pertanyakan adalah bagaimana caranya para peneliti itu sampai pada kesimpulan yang mereka publikasikan. Sekedar hiburan video berikut ini memperlihatkan betapa mudahnya para peneliti mendapatkan apa yang mereka inginkan dalam polling.

Jumlah sampel yang diambil dan sebarannya adalah hal berikut yang perlu mendapat perhatian. Masalah sampel ini sering menjadi perdebatan yang tidak ada ujungnya. Ada kawan yang menanyakan mana mungkin sampel sebesar 1000 orang misalnya bisa mewakili pendapat 100 ribu orang. Tidak mudah menjawab ini, tetapi secara gampang mungkin ada contohnya yaitu pada waktu kita masak soup mengapa pada saat kita cicipi rasanya hanya satu sendok sudah cukup. Mengapa hanya satu sendok soup, tidak sepanci soupnya kita makan sebelum kita menyimpulkan kalau soup itu kurang garam atau tidak. Atau kalau kita kedokter hendak mencheck cholesterol kita mengapa hanya sedikit darah yang diambil, bukan seluruh darah kita dikeluarkan untuk melihat berapa level cholesterol kita. Masih banyak contoh lain yang bisa menjawab pertanyaan mengapa sampel bisa mewakili populasi. Memang banyak hitungan didalamnya tetapi saya tidak ingin masuk terlalu dalam karena akan membosankan pembaca.

Bagaimana kita bisa mendeteksi apakah sampel yang diambil sudah mewakili populasi. Mungkin tidak bisa terlalu tepat tetapi paling tidak ada yang bisa kita pegang. Contohnya adalah bila para peneliti mengatakan jumlah sampel yang diambil proporsional dengan jumlah penduduk maka kita bisa melihat jumlah penduduk dari masing2 daerah yang diwakili. Kalau kota Jakarta dengan jumlah penduduk lebih dari 8 juta orang diambil sampel sebanyak 100 orang apakah bisa dikatakan proporsional jika Kupang dengan penduduk 350 ribu orang diambil sampel sebesar 200 orang. Kesalahan pengambilan sampel ini sering terjadi sehingga salah juga dalam kesimpulannya. Salah satu yang paling terkenal di US adalah pada tahun 1936, majalah Literary Digest mengirim kuestioner ke para pemilik telpon dan mobil yang pada saat itu termasuk golongan menengah ke atas dari sisi pendapatan. Kuestioner itu menanyakan siapa yang akan terpilih dalam pemilihan presiden pada pemilihan mendatang. Semuanya memilih Alfred Landon dari partai republican. Majalah tersebut mempublikasikan prediksinya kalau Alfred Landon akan menang dalam pemilihan mendatang berdasarkan hasil surveynya. Ternyata yang menang adalah Franklin D Roosevelt dari partai democrat dengan selisih yang sangat jauh. Disini terlihat bahwa majalah tersebut tidak memperhitungkan kekuatan golongan ekonomi menengah ke bawah, sehingga mereka tidak disampel. Sampel seperti inilah yang termasuk dalam kategori tidak mewakili populasi.

Masih ada hal lain lagi yang sebaiknya kita lihat dalam membaca hasil polling ini. Para scholars sering menyarankan sebaiknya kita membekali diri dengan informasi seperti ini agar tidak salah dalam membaca hasil polling, survey, atau penelitian.

Barusan membaca keluhan seorang teman tentang lututnya sakit sehingga jalannya sukar. Eh, usut punya usut ternyata penyebabnya adalah obat penurun kolesterol, Lipitor, yang menjadi biangnya. Ternyata setelah mendapat informasi dari teman lalu dia stop meminum Lipitor, sekarang jalannya lebih mendingan, tidak terlalu sakit.

Dalam emailnya itu juga disinggung nama seorang dokter NASA. Melihat nama itu, saya langsung tanya ke Gus Goog dan benar, yang bersangkutan memang dokter NASA yang sempat dilatih menjadi Astronaut. Namanya Duane Edgar Graveline MD, dan biography resmi dari NASA bisa dibaca di sini. Tapi yang paling menarik, selain buku-buku yang beliau tulis tentang berbagai efek sampingan Lipitor ini, beliau menulis My Statin Story ini.

Ada beberapa efek sampingan yang dikutip Dr. Graveline. Misalnya Transient Global Amnesia (TGA). Suatu kali Dr. Graveline merasa dirinya hanya seorang anak berusia 13 tahun, yang bisa ingat berbagai kejadian di saat dia berusia 13 tahun dan merasa lucu kalau dibilangi dia sudah menikah dan punya anak. Belum lagi berbagai persoalan yang ada kaitan dengan kerusakan otot yang sangat mengganggu.

Setelah membaca tulisan ini, saya cek, dari 3 teman dekat yang memakan Statin (Lipitor), satu sudah stop karena dia baca sendiri di Internet setelah mengalami sakit lutut yang berkepanjangan dan tak tahu mengapa atau apa penyebabnya sampai akhirnya dia temukan sendiri kalau sakit lututnya itu merupakan efek sampingan Statin. Seorang teman lagi punya persoalan jantung, lalu dikasih Lipitor sama dokternya, malah lututnya bengkak sampai berhari-hari. Dia kaget ketika saya beritahu link ke ceritera Dr. Graveline. Satu lagi terlalu sibuk untuk diajak omong, tetapi saya yakin kalau dia sudah sempat baca, mungkin dia akan kaget juga seperti dua teman sebelumnya.

Ini sekedar informasi. Karena saya bukan dokter manusia, silahkan cek dengan dokter anda kalau anda lagi memakan Lipitor dan sebangsanya. Tapi jangan kaget kalau dokter anda tidak punya waktu membaca informasi yang membanjir di Internet ini. Itu adalah tugas anda untuk mengerjakan PR dan membantu dokter anda mencari solusi untuk persoalan kesehatan anda. Apalagi dokter terkenal seperti Dr. Isadore Rosenfeld juga memuji segi positive Statin dalam pencegahan serangan jantung seperti yang ditunjukkan dalam video berikut. Jangan tunggu sampai otot sudah rusak semua baru menyesal. Kerjakan PR anda sekarang dan cari informasi sebanyak-banyaknya mengenai Statin atau Lipitor dan sejenisnya ini.

Di situs ini banyak posting mengenai efek sampingan Lipitor, begitu juga di situs Drug Injury Watch ini anda bisa dapatkan informasi tambahan.

Saya pikir yang paling menarik adalah peringatan Paul Zane Pilzer yang saya pernah dengar dalam salah satu CD-nya. Dalam CD itu Paul mengingatkan agar jangan mau cepat menerima, kalau anda ke dokter dan mereka mengatakan itu sakit orang tua. Carilah informasi sebelum badan anda terlanjur rusak dihancurkan oleh obat dokter yang selalu disodorkan perusahaan2 Farmasi besar. Semoga anda masih punya kesempatan. Dan kalau anda meminum obat penurun kolesterol dan lutut anda sakit, cepat-cepat cari informasi sebelum terlambat.

Buat teman yang sudah sharing informasi berharga ini saya ucapkan banyak terima kasih. Informasi anda ini bakal menolong banyak orang sebelum otot mereka pada hancur karena dokter hanya akan bilang, ah, itu cuma sakit orang tua. Terima nasiblah kalau ingatanmu memburuk, dan celakanya, mereka manut! Kasihan.(drt)

Serba-serbi Survey dan Statistik Dalam Kehidupan Sehari-hari.

Seperti tulisan saya sebelumnya, dalam kehidupan sehari-hari kita banyak menerima informasi dari berbagai media mengenai hasil penelitian, hasil dari survey-survey, dan hasil dari jajak pendapat (polls). Suka atau tidak kita dihujani dengan data statistik tersebut. Mulai dari yang sangat sederhana sampai yang canggih. Misalnya siapa yang akan terpilih sebagai presiden Indonesia untuk masa jabatan 5 tahun mendatang, atau mengapa kaum perempuan lebih menyukai kosmetik merek tertentu, atau informasi jumlah penduduk yang masuk dalam kategori miskin di Indonesia,  dan lain-lain.

Salah satu informasi yang cukup menarik perhatian masyarakat di pertengahan tahun 1980 an adalah, ditemukannya hubungan antara penyakit jantung dan tingkat kolesterol yang tinggi. Saya akan sedikit mengulas masalah ini sebagai contoh yang saya kutip dari “Tainted Truth” karangan Cynthia Crossen. Dari hasil temuan diatas tentunya orang akan bertanya bagaimana caranya menurunkan kolesterol agar bisa hidup sehat. Walaupun pada saat itu ada pilihan dengan menggunakan obat, para peneliti juga mulai mencari alternative lain yaitu bagaimana mengontrol kolesterol kita dengan makanan. Salah satu hasil yang ditemukan saat itu adalah oat bran (oatmeal) dapat menurunkan kolesterol.

Dengan informasi ini kita mempunyai beberapa pilihan: mempercayai informasi itu, atau mempertanyakan kebenarannya, atau membiarkan saja informasi itu berlalu lalang tanpa berbuat apa-apa. Toh pada saat kita membaca survey tersebut, mungkin belum terasa dampaknya kedalam kehidupan kita. Semua ini akan mulai berguna kalau suatu saat kita butuhkan. Seperti contoh diatas, kalau kita ingin kolesterol kita rendah dan bisa hidup sehat, kita akan memperhatikan hasil penelitian tersebut. Lalu mengikuti anjuran mereka yaitu makanlah oat bran.

Apakah kita termasuk orang yang mudah percaya lalu mulai mengganti konsumsi sehari-hari dengan oat bran. Ataukah kita termasuk orang yang skeptis lalu mencari informasi lebih lanjut. Informasi-informasi tersebut misalnya, apakah semua makanan yang mengandung oat bran bisa menurunkan kolesterol, atau bagaimana cara mengkonsumsinya. Seberapa banyak batas maksimum yang boleh dikonsumsi dalam satu hari dan seterusnya. Setelah itu ternyata kolesterol kita tidak membaik apakah lalu kita bisa menyalahkan hasil penelitian tersebut?

Ada beberapa cara yang bisa kita pakai dalam menyeleksi apakah hasil suatu penelitian bisa dipercaya. Yang pertama adalah menggunakan common sense. Dalam suatu penelitian biasanya pihak-pihak yang terlibat adalah: sponsor yang membiayai penelitian tersebut, peneliti dan media masa yang menyebarkan hasil dari penelitian itu. Pertanyaan pertama adalah siapa yang berada dibelakang penelitian ini? Ini penting sekali karena banyak contoh yang menunjukkan kalau pesan sponsor dapat mempengaruhi hasil dari suatu survey atau penelitian. Contoh berikut ini adalah survey yang bisa kita lihat siapa sponsor dibelakangnya.

Hasil survey yang heboh saat ini yaitu mengenai elektabilitas dari calon presiden dan wakil presiden kita. Dua lembaga survey yaitu LRI (Lembaga Riset Informasi) dan LSI (Lembaga Survey Indonesia), mengeluarkan hasil yang berbeda, dan keduanya mengklaim kalau hasil surveynya benar. Hasil survey yang dikeluarkan oleh LRI , elektabilitas SBY-Boediono saat ini sebesar 33,02 persen, disusul JK-Wiranto 29,29 persen, dan Mega-Prabowo 20,09 persen. Berbagai media masa menyebutkan kalau LRI adalah organisasi sayap dalam tim sukses pasangan JK-Wiranto. Hasil survei yang dikeluarkan oleh LRI ini agak berbeda dengan hasil survei yang dilakukan LSI yang dibiayai Fox Indonesia, yang adalah konsultan politik SBY-Boediono. Menurut LSI, elektabilitas SBY-Boediono mencapai 71 persen, Mega-Prabowo 16,4 persen, dan JK-Wiranto 6 persen (Kompas, 4 Juni 2009).

Secara common sense kita bisa melihat bahwa ada yang aneh dengan hasil survey-survey ini. Mengapa ? Karena “seandainya” kedua methoda survey tersebut sama, harusnya hasilnya tidak akan jauh berbeda, walaupun tidak sama persis. Hasil survey “kelihatannya” sesuai dengan kepentingan sponsor. Sebelum melangkah lebih jauh dan mempercayai hasil survey tersebut, sebaiknya kita bertanya sejenak, apakah memang begitu?

Kalau kita tidak mampu melihat siapa sponsor dibalik suatu survey, kita bisa masuk selangkah lebih dalam lagi. Biasanya hasil survey berdasarkan atas dua hal yaitu methodology dan data. Semua informasi ini ada dalam apa yang disebut technical index. Ada peneliti yang murah hati melampirkan semuanya, ada yang menyembunyikan sebagian dan ada yang sama sekali tidak mau memperlihatkan apa yang dilakukannya itu. Kalau peneliti tidak mencantumkan secara detail bagaimana hasil survey mereka diperoleh, artinya kita tidak perlu mempercayai hasil survey tersebut. Jangan buang waktu untuk mendalami survey-survey seperti itu.

Kembali pada masalah oat bran. Beberapa waktu setelah hasil penelitian masalah oat bran tersebut dipublikasikan ada dua orang peneliti independent yang meneliti masalah oat bran ini. Kesimpulan yang diperoleh adalah oat bran tidak ada bedanya dengan makanan lainnya, karena walaupun dapat menurunkan kolesterol tetapi tidak sebesar yang di klaim oleh kelompok peneliti pertama. Setelah di telusuri ternyata sponsor peneliti pertama adalah salah satu produsen oat bran terbesar. Jadi sekali lagi, sponsor, sadar atau tidak ikut mempengaruhi hasil dari suatu survey. Masalah oat bran ini akhirnya berakhir di pengadilan.

Tentu saja yang kita harapkan, sama sekali tidak ada hubungan antara berbagai survey mengenai Capres dengan survey pesan sponsor ala oat bran ini. Tapi itu tergantung, apakah LSI dan LRI akan berani membuka secara transparant bagaimana mereka memperoleh hasil surveynya? Mari kita tunggu. (drhi)

Older Posts »