Berpacu Dengan Waktu
Jul 8th, 2008 by drt
Ada kala saya suka berpikir, syukurlah karena kesibukan jadi ada banyak hal yang bisa terlupakan atau katakanlah, dilupakan. Misalnya, karena kesibukan, terpaksa waktu saya untuk mengisi blog ini juga menyusut. Padahal ada saja berbagai hal yang ingin saya curahkan di sini.
Ambil saja contohnya. Hari ini di situs PERMIAS ada update dari Rina yang bunyinya kalau diterjemahkan menjadi:
Hallo semua,
Test jantung dan paru-paru saya kemarin dibatalkan karena sel-sel kankernya tidak terpengaruh oleh pengobatan chemo terakhir, sehingga akan membuat hasil testnya tidak akurat dan mubazir. Maka itu mereka akan menunggu sampai chemo berikut Jumat nanti, sebelum akhirnya mereka bisa menentukan, apakah testing-testing tersebut bisa dilanjutkan. Dalam dua akhir pekan belakangan ini, tumor di leher saya telah bertumbuh dengan kecepatan yang mengawatirkan, yang tidak selayaknya terjadi dalam siklus chemo tingkat akhir begini. Moga-moga dengan obat yang lebih keras dan baik di Jumat ini kankernya bisa lebih terkontrol atau paling tidak pertumbuhannya bisa diperlambat, biar lebih lama dari seminggu sekali begitu. Karena kalau tidak begitu, pencangkokkan tidak akan berhasil. Saya mohon doa restu anda agar obat ini akhirnya bisa membawa saya ke operasi pencangkokkan. Terima kasih,….
Sudah berapa hari sebenarnya saya telah mendapatkan potongan-potongan info ini. Tetapi selain sibuk, saya sering tidak tahu harus memulainya dari mana. Untung saja ada update dari Rina tadi, jadi paling tidak ada pijakan saya untuk memulai menulis.
Iya, sehubungan dengan penundaan ini, maka pertama, jarak sampai hari pencangkokkan naik lagi menjadi 10 hari (tepatnya 9 hari saat posting ini keluar). Kedua, uang yang terkumpul baru 25% dari biaya US$180,000 yang dibutuhkan, walaupun jumlah itu sudah besar sekali untuk ukuran Indonesia.
Lalu kenapa saya kepingin sekali melupakan urusan ini? Karena saya dengar, pihak RS masih mengotot bahwa kalau dana yang terkumpul tidak sampai 50%, mereka tidak akan proses surat-suratnya Rina.
Tapi sebaliknya, dengan adanya penundaan ini, saya juga tidak tahu apakah ini blessing in disguise atau apa, tapi yang jelas, kesempatan untuk terus mengumpulkan dana masih diperpanjang seminggu lagi.
Secara pribadi saya tidak kenal Rina, saya bukan sanak familynya Rina, namun dalam waktu kurang dari sebulan saya sering kepikiran soal Rina. Sama seperti waktu saya menulis perasaan naik roller coaster ketika mengurusi pengumpulan dana untuk Gratia dulu. Untung saja saya di sini hanyalah penabuh genderang, dan pikiran tentang bagaimana keadaan keluarga Rina seringkali harus saya hilangkan dari kesadaran saya. Nah sekarang karena kita lagi berpacu dengan waktu, maka kaleng berisi koin ini saya goyang dengan keras biar nyaring di telinga anda. Semoga para pembaca di sini yang punya Paypal account sudi menyumbang buat Rina. $1 atau $2 bukan soal, karena biaya yang dibutuhkan cukup besar. Sedangkan bagi saudara-saudari yang tak punya Paypal account, semoga anda semua bersedia untuk penuhi permintaan Rina buat panjatkan doa agar Rina bisa menjalani prosedur pencangkokkannya. Terima kasih.
Hang in there, Rina. You’re a true fighter!


