≡ Menu

Di sanakah kamu (15) – Penutup

Sudah hampir dua tahun saya tak pernah mengisi postingan di sini.

Alasannya sederhana.

Pertama, memang saya sibuk sekali selama dua tahun ini. Kedua, dan ini yang lebih penting. Setelah berkali-kali mencoba untuk menutup catatan perjalanan rohani ini, saya selalu gagal. Saya selalu merasa ada yang tidak sreg. Begitu saya bacakan kepada Winnie, dia pun tidak suka penutup seperti itu.

Dua hari lalu, tiba-tiba Winnie bertanya: Kenapa sih saya menuliskan serial ini?

Saya tak bisa langsung menjawab.

Di tahun 2009, saya pernah menulis tentang sepuluh tahun Winnie kembali ke pangkuan Gereja, lalu saya postkan ke milis Parokinet. Tapi tak ada yang berminat membaca. Saya tak pernah melanjutkan postingan itu lagi.

Dua tahun lalu, dalam memperingati lima belas tahunnya Winnie kembali ke Gereja, saya terus mulai menulis postingan ini. Pengalaman atau perjalanan rohani kami ini saya pusatkan dengan lagu Paskah, ‘Were you there when they crucified my Lord’ yang sudah anda ikuti sampai bagian ke-14.

Kenapa judul lagu hasil karya seorang budak hitam di Amerika ini bisa menjadi judul tulisan ini?

Lagunya sederhana sekali. Hanya terdiri dari empat pertanyaan yang dipisah menjadi empat bait, lalu setiap baitnya pertanyaan yang sama ini diulang dua kali diikuti dengan pekikan ooh yang menyayat, berulang-ulang menyatakan kegemetaran penanya itu, lalu ditutup dengan pertanyaan yang sama.

Berikut ini adalah terjemahan dari empat pertanyaan itu seperti yang bisa ditemukan di Wikipedia:

Di sanakah kamu ketika mereka menyalibkan Tuhanku? (Disanakah kamu?)
Di sanakah kamu ketika mereka memakunya ke pohon?
Di sanakah kamu ketika mereka menikam di lambung-Nya?
Di sanakah kamu ketika mentari menolak untuk bersinar?

Ooh,…. kadang itu menyebabkan saya gemetar, gemetar, gemetar,…..

Ada berbagai versi. Ada yang menambahkan, di sanakah kamu ketika mereka membaringkannya di kuburan? Ada yang menyebutkan bahwa sesungguhnya ada tujuh pertanyaan dalam berbagai versi itu. Lagu yang tadinya berasal dari Gereja Epicospal ini ternyata dalam hymne Gereja Katholik yang dipakai di Paroki kami cuma disingkat jadi tiga bait seperti yang terlihat dalam foto berikut:

Were You There Catholic version

Were You There yang dinyanyikan di Gereja Kami

Reaksi orang atas lagu ini bermacam-macam. Tak urun ada juga yang mengecam kalau lagu ini terlalu menekankan saya, saya, saya yang gemetar terus, seperti yang pernah saya baca dalam salah satu forum diskusi lagu Gereja. Tapi banyak yang terenyuh mendengar lagu ini, terutama ketika mulai dinyanyikan di masa Pra-Paskah.

Dalam seri ini, sudah saya ceriterakan bagaimana reaksi Winnie ketika mendengar lagu ini.

Di rumah, kadang sedang di dapur atau di ruang kerja saya, tahu-tahu saya bersiul dan menyanyikan lagu itu. Tapi begitu mendengar nada sol do mi,….Oops, saya jadi sadar dan banting stiir. Bukannya

5 1 | 3 3 3 2| 1 3 2 1|

Sol do mi mi mi re do me re do,…

"The first line of Were You There"

“The first line of Were You There”

tapi saya teruskan dengan:

sol do mi do sol do mi la sol mi,…..

Dari ‘Were you there,….’ langsung jadi ‘….. sia tanah air hamba.’

Baris pertama lagu Indonesia Tanah Pusaka.

Baris pertama lagu Indonesia Tanah Pusaka.

Kadang, mendengar suara koor di Gereja menyanyikan lagu ‘Were you there,…’ ada keinginan untuk berdiri dan berteriak minta paduan suaranya berhenti menyanyikan lagu itu,….. tapi Winnie sendiri pasti akan malu sekali kalau hal itu terjadi.

Berikut ini adalah bagian yang saya ambil dari penutup yang saya tulis dua tahun lalu tapi tak sempat dipublikasikan.

Di malam Jumat Agung 2014, saat umat maju mencium patung ke depan, tak ada paduan suara, tapi piano dan seruling memainkan lagu itu lagi. Winnie sudah mulai memakai kursi roda saat itu, jadi dia tidak ikut maju ke depan. Kalau saja masih duduk di kursi saya pasti akan menunggu sampai lagu itu selesai. Tapi saat itu saya sudah berdiri dalam antrian, dan saya tak bisa begitu saja batalkan maju ke depan walaupun saya tahu kalau Winnie akan menitikkan air mata lagi.

Malam Paskah 2014.

Malam Paskah 2014.

Dalam perjalanan pulang dari Gereja, saya terus tanya, “kenapa sih kamu mesti nangis setiap mendengar lagu itu?”

Winnie bilang, karena dalam waktu beberapa detik itu, aku merasa berada di sana. I was there! Persis seperti beberapa detik di rumah John dulu, dan aku seperti melihat itu di depan mataku lagi.

Setelah menarik napas dalam-dalam, saya terus bilang, “tapi barangkali orang akan bilang ini semacam gangguan kejiwaan, seperti yang mereka katakan dengan pengunjung ke Jesusalem yang tiba-tiba bertingkah aneh atau Jerusalem Syndrom!”

Masya bodoh, kata Winnie. Kalau lagu itu bilang were you there, yes, I was there,….

Diam-diam saya terus menyetir dan melantunkan lagu itu dalam hatiku tanpa suara:

Were you there, when they crufied my Lord.
Were you there, when they crucified my Lord.
Ouu,…. some times it makes me tremble, tremble, tremble,
Were you there, when they crucified my Lord.

Ruang Aparisi Oktober 2015Ketika kami berkunjung ke Conyers di bulan Oktober 2015, Conyers sudah sangat sepi. Tapi mukjizat di Conyers masih terus berlangsung setidak-tidaknya bagi Winnie dan saya, dalam menghargai kehidupan ini lewat hal-hal kecil sehari-hari, seperti misalnya bahwa kami masih bernafas setiap bangun pagi. Biarlah mukjizat itu berlangsung dan kami akan melangkahi hidup ini yang kalau dalam bahasa Inggris disebut, ‘one day at a time,’ atau meniti hidup ini hari demi hari. Kami bersyukur dan terima-kasih sempat berada di Conyers pada waktu yang tepat yang telah mengubah perjalanan hidup kami hingga hari ini. Bukankah hidup manusia itu sendiri suatu mukjizat?

Terima kasih buat anda semua yang telah membantu hingga tulisan ini bisa rampung. Dengan selesainya tulisan ini, blog ini tak akan saya lanjutkan lagi. Selanjutnya saya akan membuat blog baru berisi pengalaman setelah pensiun. 😀

Selamat hari Pantekosta – 2016.***

{ 2 comments }

Di sanakah kamu? (14)

Setelah Winnie dibaptis, tak ada lagi kejutan seperti yang kami alami sejak November 1998.

Pertama Winnie menjadi sakristan, tenaga sukarela untuk mempersiapkan keperluan misa di hari Rabu sore. Kemudian karena prodiakon yang mengurusi piala anggur kadang tidak hadir, akhirnya Winnie belajar dan menjadi seorang prodiakones yang membantu pastor membagi hosti atau anggur kepada umat sewaktu misa, sehingga dia bisa mengisi tugas prodiakon sewaktu misa Rabu sore di Kapela, kalau yang bertugas tidak hadir.

Pelayanan Ekaristi bersama Fr. Louis Giardino, Pastor Paroki kami. Foto koleksi pribadi.

Pelayanan Ekaristi bersama Fr. Louis Giardino, Pastor Paroki kami. Foto koleksi pribadi.

Suatu ketika ada yang berceritera tentang pelayanan ekaristi buat orang sakit yang tak bisa ikut misa dan sedang opname di RS atau tinggal di rumah. Dalam bayangan Winnie, seperti yang sering dia dengar dari ceritera teman-teman kerja dia, ini pasti suatu kunjungan beramai-ramai dari sekolompok anggota paroki untuk berdoa bersama dengan si sakit dan keluarganya.

Setelah mendengar ceritera itu, Winnie sempat pikir mau ikut tidak ya? Seperti biasanya sehabis doa Rosario menjelang tidur, Winnie membuka Alkitab, dan dia kaget sekali membaca ayat berikut di halaman yang dia buka:

Pergi ke rumah duka lebih baik dari pada pergi ke rumah pesta, karena di rumah dukalah kesudahan setiap manusia; hendaknya orang yang hidup memperhatikannya. (Pkh 7:2)

Lho koq begini bunyinya?

Winnie sebenarnya tidak terlalu senang berada di dekat orang sakit, apalagi orang yang akan meninggal. Setelah berhari-hari memikirkan bacaan ini, akhirnya hati Winnie tergerak juga, lalu dia menelpon ke gereja mencari tahu apa yang harus dia kerjakan untuk bisa melayani mereka yang sakit. Bayangannya kalau datang berkelompok untuk berdoa, walaupun tak senang tapi tak apalah. Setelah bisa dihubungi lewat telepon, petugas kordinator urusan pengantaran hosti ke rumah sakit ini bilang, dia merasa senang sekali atas keinginan Winnie, karena mereka di gereja memang lagi kekurangan tenaga pengantar hosti buat mereka yang sedang sakit.

Karena teringat ceritera teman-teman kerjanya, Winnie bertanya, berapa orang yang akan pergi bersama dia untuk mengantar hosti buat mereka yang sakit?

“One on one, Winnie,” kata petugas kordinator itu. Maksudnya satu lawan satu. Cuma kamu sendiri yang akan ke sana. Tapi untuk beberapa minggu pertama, kamu bisa ikut prodiakones yang bertugas untuk belajar bagaimana melayani mereka yang sakit.

Setelah magang beberapa minggu, suatu hari akhirnya Winnie mendapat telpon. Ada yang membutuhkan pelayanan ekaristi dan mereka butuh bantuannya.

“Tapi ini adalah pasien kanker terminal, tinggal tunggu waktu saja,” kata kordinator prodiakon itu.

“Apa? Lha bagaimana dengan mereka yang lain?” Winnie balik bertanya.

“Ternyata selain masalah waktu, di mana setiap orang sudah punya jadwal siapa yang dikunjungi, ada juga yang tidak tega melayani orang yang sudah diujung perjalanan hidup mereka.”

Winnie ragu-ragu sesaat, tapi dia merasa bahwa orang-orang ini juga membutuhkan pelayanan, makanya dia pun menerimanya.

Prodiakones dalam misa malam Paskah 2009. Foto koleksi pribadi.

Prodiakones dalam misa malam Paskah 2009.
Foto koleksi pribadi.

Tugas pelayanan ini sempat terputus setelah dua tiga tahun saat tempat kerja dan waktu kerjanya berubah. Tapi kemudian begitu jam kerjanya berubah lagi, dan setiap kali para Usher melihat dia di Gereja, mereka sering bilang ada pasien baru yang membutuhkan hosti di RS, dan menanyakan apakah dia bisa membantu, Winnie agak bingung. Membagi waktu dan pikiran ternyata persoalan utama Winnie. Kadang kami sering cekcok juga urusan tugas gereja Winnie. Bagaimanapun, kami manusia biasa. Pengalaman di Conyers tak mengubah status kami sebagai pendosa. Kadang saya malah sering bergurau dengan Winnie, sebelum atau sesudah doa malam. Biar saya yang berbuat dosa dan dia yang memintakan ampun buat dosa-dosa saya.

Tapi suatu malam ketika selesai berdoa, tanpa sengaja Winnie menemukan ayat yang sama sewaktu membuka Alkitab.

Ah, Alkitab setebal begini, koq bisa ketemu ayat yang sama lagi setelah sekian tahun? Akhirnya Winnie berpikir, mungkin memang sudah tugas dia untuk kembali mengantar hosti lagi dan langsung melanjutkan tugas yang sempat dia tinggalkan ini.

Tugas ini dikerjakan dengan setia sampai suatu hari seorang teman baik mantan prodiakones yang selalu dia bawakan hosti selama empat tahun akhirnya meninggal di tahun 2012. Ditambah lagi kondisi kesehatannya sendiri juga mulai menurun dan gerakannya tidak seleluasa dulu, akhirnya Winnie tinggalkan tugas prodiakones ini beberapa bulan lalu.

Saya sendiri selalu heran, kenapa begitu banyak orang kalau ketemu dia di Gereja rasanya seperti ketemu teman baik mereka, saling jabat tangan dan rangkul-rangkulan segala.

Itu siapa? Tanya saya setelah orang-orang itu pergi.

– Suaminya baru meninggal karena kanker. Aku selalu bawakan hosti buat mereka.

– Itu teman yang baru kehilangan mamanya,

– Itu papanya pernah dirawat di ICU dan mereka sangat berterima kasih karena aku yang bawakan hosti selama dia di RS,…dan masih banyak lagi.

Shrine tempat ruang aparisi. Foto koleksi pribadi

Shrine tempat ruang aparisi.
Foto koleksi pribadi

Tapi dari sekian banyak orang itu, tak banyak yang tahu, kenapa Winnie begitu tekun melayani mereka yang lain lewat pelayanan Ekaristi bagi mereka yang sakit. Tak banyak juga yang tahu, bagaimana Winnie ikut bergabung dengan Gereja Katholik. Juga tak banyak yang tahu pengalaman Winnie di rumah John, serta bagaimana Winnie lalu memutuskan menjadi Katholik, duapuluh dua tahun setelah kami menikah dengan dispensasi dari keuskupan Semarang. Selain teman-teman kelas RCIA yang dibaptis bersama di malam Paskah serta para pembimbing mereka, dan teman-teman kelas RCIA serta pembimbing mereka tahun berikutnya, dimana Fr. Phil mengharuskan kami ikuti lagi klas RCIA setelah Winnie dibaptis, tak banyak yang tahu tentang pengalaman kami di Conyers. Begitulah, waktu berlalu dan hidup pun terus berjalan. Mukjizat pun masih saja berlangsung, baik yang kita sadari atau tidak.

….. bersambung

{ 3 comments }

Di sanakah kamu? (13)

Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya. (Pkh 3:1)

Di tahun 2009, dalam memperingati 10 tahun kami kembali ke Gereja, saya pernah coba menulis catatan perjalanan rohani ini. Tapi mungkin belum waktunya, niat itu tak pernah kesampaian.

Musim berganti, waktu juga berlalu dengan pesat. Ternyata hari-hari ini saya sudah hampir menyelesaikan bagian terakhir dari catatan perjalanan rohani kami, dalam rangka memperingati 15 tahun saya kembali dan Winnie bergabung ke pangkuan Bunda Gereja.

Rupanya dalam mengumpulkan bahan catatan perjalanan rohani ini, otak kami juga mulai tak suka diajak bekerjasama. Ada berbagai kenangan dari masa itu mendadak muncul di otak tidak selalu dalam urutan kronologisnya.

Yeh 47:12 Foto Koleksi Pribadi,

Yeh 47:12
Foto Koleksi Pribadi,

Misalnya, kemarin pagi waktu sarapan, Winnie tiba-tiba bertanya, “Apakah kamu ingat tentang pohon-pohon di pinggir sungai yang disebutkan dalam Ezekiel?”

Iya, karena Winnie menjadi Katholik di Gereja Amerika, tentu saja semua istilah Gerejani pakai bahasa Inggris, kecuali beberapa doa yang saya ajarkan. Tak heranlah kalau Winnie lebih mengenal nama-nama bahasa Inggris berbagai buku dalam Alkitab itu.

Waktu saya bilang lupa urusan pohon-pohon di pinggir kali, Winnie lalu mengingatkan saya begini.

Menurut Winnie, setelah saya putuskan untuk kembali ke Gereja menjelang ulang tahun pernikahan kami di tahun 1998, malamnya saya sempat berdoa Rosario.

– “Hah?” Saya malah sudah tak ingat sama sekali urusan doa itu waktu saya memulai catatan perjalanan rohani ini.

Kata Winnie, setelah selesai berdoa, saya lalu berceritera kepada Winnie, apa yang terbaca sewaktu saya buka Alkitab secara acak, dan membaca tepat di halaman yang saya buka itu.

Saya terpaksa memeras otak dan setelah mengingat-ngingat lagi, iya, ya, rasanya hal itu memang pernah terjadi.

Menurut Winnie, ceritera tentang pohon yang saya baca waktu itu membawa ingatannya pulang ke Salatiga, ke hari-hari menjelang keberangkatan kami ke Amerika. Winnie bilang, dia pernah baca ayat itu dalam majalah HIDUP dan hal itu tidak bisa dia lupakan, karena reaksinya setelah membaca.

Setelah saya cek sebentar ke komputer, rupanya yang Winnie maksudkan adalah Yeh 47:12.

Pada kedua tepi sungai itu tumbuh bermacam-macam pohon buah-buahan, yang daunnya tidak layu dan buahnya tidak habis-habis; tiap bulan ada lagi buahnya yang baru, sebab pohon-pohon itu mendapat air dari tempat kudus itu. Buahnya menjadi makanan dan daunnya menjadi obat.

Sedangkan reaksi Winnie adalah: “Ya Tuhan, kalau semua orang pindah ke tepi sungai itu, bukankah lama-lama buahnya akan habis? Buahnya habis, daunnya habis, jangan-jangan ikan di sungaipun akan habis, kalau banyak manusia yang menuju ke sana.” Ada kaitan imajiner yang menghubungkan ayat di atas dengan Amerika dalam bayangan Winnie. Kasarannya, kalau semua orang bilang Amerika bagus, lama-lama banyak yang bakal tidak kebagian.

Kemudian Winnie tambahkan lagi bagian yang sudah hampir terhapus dalam ingatan saja, dan ini yang agak mengejutkan. Seperti saya katakan, dalam banyak hal, ingatan Winnie jauh lebih baik ingatan saya.

Begitulah, saya terus membacakan kelanjutan ayat di atas, dan ketika saya mulai membacakan tentang air yang mencapai pergelangan kaki, lutut dan pinggang, Winnie terus bilang dalam bahasa Tionghoa. “回头是岸.” (hui tou shi an). Arti harafiahnya “putarkan kepala adalah (terlihat) pantai,” sebuah ungkapan yang mengajak bertobat.

Bertobatlah! Image source: pic18.nipic.com

Bertobatlah!
Image source: pic18.nipic.com

Mendengar kata-kata Winnie saya tambahkan, “悬崖勒马,回头是岸” (xuan ya le ma, hui tou shi an). Ini adalah pepatah Tionghoa seperti yang sering diulang-ulang pak Zhang di kelas kami dulu, entah di kelas 4 atau kelas 5, SR Tionghoa di kota Kupang.

Tahan kekang di tebing curam,
Putarkan kepala terlihat pantai.

Keduanya adalah ajakan bertobat di saat paling genting! Bertobatlah menurut petuah Tionghua kuno, sama saja dengan menahan kekang kuda saat sudah berada di puncak tebing yang terjal atau tak perlu berlayar lagi, putarkan kepalamu, di belakang sana ada pantai.

“Tapi apa hubungan dengan keadaan kita saat itu?”

“Coba kamu resapkan kembali,” kata Winnie. Mula-mula air hanya setinggi pergelangan kaki, maju lagi, naik sampai lutut, maju lagi air itu akan menenggelamkan kamu.

“Aku tak bilang apa-apa kepadamu waktu kamu ceriterakan kepadaku selesai doa malammu, karena aku toh tak mengerti sama sekali urusan gereja. Tapi melihat kamu mau ke Good Shephard, dan kamu bicara tentang ayat itu, aku merasa kayaknya jalanmu adalah jalan benar dengan kembali ke Gereja. Kalau waktu itu kamu paksakan dan maju terus ikuti maunya darah tinggimu, aku rasa kamu bakal kelelap dan kita bakal susah.”

Lamat-lamat saya ingat lagi, dan saya merasa tambah yakin bahwa saya memang pernah bicara soal ayat itu dengan Winnie. Tapi baru pagi itu saya mendengar pendapat Winnie urusan ke Gereja berarti bertobat dan tidak bakal kelelap dan mati tenggelam. Dengan pengetahuan tentang Gereja yang begitu minim di peringatan ulang tahun perkawinan kami yang ke-22, ternyata jalan pikirannya waktu itu agak masuk akal menurut saya, 15 tahun sesudah kejadian itu.

Beberapa hari setelah kejadian doa malam yang Winnie ingatkan itu, dan setelah dipermainkan oleh homili seperti yang saya ceriterakan di awal tulisan ini, saya terus bertobat, sempat ketemu dan meminta maaf kepada Fr. Phil atas surat berisi kecaman yang saya layangkan kepada beliau, dan kembali lagi ke Gereja setelah hampir tiga tahun bolos. Iya, iya, tentu saja saya harus mengaku dosa dulu. 🙂

Yang Winnie dan saya tak pernah bayangkan bahwa dalam waktu singkat tak sampai 6 bulan setelah kejadian itu, bukan saja saya yang kembali ke Gereja, tetapi Winnie pun akhirnya juga pulang dan bergabung dalam pangkuan Bunda Gereja.

Menulis sampai sini tiba-tiba ingat ceritera tentang seorang penumpang yang terjun dari atas kapal untuk menolong penumpang lain yang baru saja terjatuh ke laut waktu kapal itu masih berlayar di tengah lautan, dan tak ada yang mau menolong orang yang terjatuh itu.

Semua penumpang dan awak kapal sangat memuji keberanian dan kebaikan penumpang yang bersedia menolong orang lain dalam bahaya tanpa memperdulikan keselamatan diri sendiri. Akibat hal itu, Kapten kapal merasa perlu memberikan penghargaan khusus kepada penumpang ini.

Begitu selesai menerima piagam penghargaan, penumpang yang berani ini diminta untuk membeirikan sambutan, bagaimana dia sampai rela berkorban untuk menolong orang lain. Tapi bukan pidato, penumpang ini cuma mau mengajukan satu pertanyaan kepada seluruh penumpang dan awak kapal.

“Saya cuma pengin tahu satu hal,” kata penumpang itu terbata-bata, “siapa sebenarnya yang mendorong saya sampai kecebur tadi?”

Ada perasaan penuh tanda tanya, “siapa sih yang mengatur semua ini limabelas tahun yang lalu, yang seakan menceburkan kami ke dalam lautan pertobatan, dan merenangi lautan karunia Tuhan?”

Bayangkanlah, semua itu dimulai dari adanya keinginan kembali ke Gereja di ulang tahun pernikahan kami, saat roda kehidupan sedang berputar ke bawah. Kemudian terus mendengar homili pertama Fr. Phil tentang lelaki Yahudi dengan Rabinya, lalu homili tentang patung Kristus yang loyo. Sesudah itu malah dapat $50 untuk uang makan dan bensin buat ajak sekeluarga ke Conyers, padahal dua bulan sebelumnya, saya masih memaki-maki puluhan ribu pengunjung Conyers sebagai Katholik bego?”

“Hayo, anda kenal siapa perencana agung ini?”

… bersambung

{ 0 comments }

Di sanakah kamu? (12)

Sewaktu masih berceritera kejadian di rumah John, Winnie tiba-tiba ingat, kalau setelah kejadian di rumah John itu, Rogers pernah mengirim dia Holy Card atau kartu suci yang sudah diberkati, bergambar kepala Tuhan Yesus yang berdarah, yang selalu Winnie simpan dalam dompetnya.

Blessed Card given by Rogers to Winnie. Image Source: John Haber.

Blessed Card given by Rogers to Winnie.
Image Source: John Haber.

“Bukan!”, kata saya kepada Winnie begitu melihat foto itu. “Ini bukan patung di rumah John yang kamu lihat malam itu!”

Seingat saya patung itu bersih dan hanya ada beberapa bintik darah di dadanya.

Kemudian saya pergi membuka kotak berisi tumpukkan foto-foto, ambil foto yang yang kemudian saya postkan di bawah ini dan tunjukkan kepada Winnie.

The Blessed Card. Image source: John Haber.

The Blessed Card.
Image: John Haber.

Ini juga bukan foto dari rumah John. Patung Kristusnya di foto ini memang kelihatan berdarah seperti yang terlihat dalam kartu suci terberkati (Blessed Card) yang dikirim Rogers.

Dalam foto di samping kanan, terlihat tulisan tangan Rogers berbunyi: “Ini adalah salib yang dilihat oleh ibu Tanone di Conyers. Rogers Haddad.”

“Oh!” Tiba-tiba saya menepuk jidat.

“Tunggu dulu”, saya bilang kepada Winnie. “Saya tak ingat secara pasti, tapi rasanya foto ini saya jepret di ruang tamu Nancy. (Akan saya cek hal ini lagi kepada John, kalau sempat ke Conyers lagi!).

Badannya Tuhan Yesus memang berdarah, dan kemungkinan foto yang Rogers berikan kepada Winnie itu adalah foto kepala patung dari salib yang ada di ruang tamu Nancy ini. Maaf, saya harus pastikan soal ini begitu ada kesempatan ke Conyers dan akan saya postingkan hasil pengecekan saya di sini. Karena betul-betul sudah lupa-lupa ingat setelah 15 tahun berlalu. Itu pula sebabnya kenapa saya paksakan membuat catatan ini, sebelum akhirnya memory kami termakan usia.

The Cross in Nancy's Living Room. Foto: Koleksi Pribadi.

Salib di ruang tamu Nancy.
Foto: Koleksi Pribadi.

“Kalau ini betul foto dari rumah Nancy, bukankah berarti ada yang inginkan kamu melihatnya di rumah Nancy?” Itulah pertanyaan yang mengganggu pikiran dan saya tanyakan juga kepada Winnie. “Lha kamu berusaha menghindar terus, makanya Rogers bisa tiba-tiba muncul di depan mobil kita, lalu ajak kita ke rumah John. Kamu bisa ikuti jalan pikiranku, nggak?”

Winnie cuma bilang: “tentu saja aku mengerti?”

Saya sendiri waktu menepuk jidat tadi, karena saya merasa, ibarat jala yang ditebarkan seorang nelayan, jalanya betul-betul lebar, dan ketat sampai tak ada seekor ikan pun yang bisa lolos.

Bayangkan, mulai dengan bau kemenyan, lalu kunci hilang, dan Nancy sudah keluar dan tunggu di pintu, ketemu Nancy, tetapi Winnie tetap tidak masuk ke ruang tamunya yang ada patung berdarah Tuhan Yesus di salib,….

Hm, siapa bilang Tuhan tak bisa guyonan?

“Nggak mau masuk lihat aku di rumah Nancy? Aku kirim Rogers untuk bawa kamu ke rumah John!”

Pikiran itu membuat saya geli sendiri. Winnie bisa mengikuti jalan pikiran saya ini dan mengangguk setuju.

*

Kembali ke ceritera saya menjemput Winnie ke tempat kerjanya. Hari itu, Minggu 14 February 1999 itu adalah hari Valentine. Saat teman-teman kerjanya ribut bicarakan soal Valentine, Winnie lagi sibuk dengan urusannya sendiri.

Sepanjang hari menurut Winnie, dia terus bergelut dalam bathin, apakah mau menjadi Katholik atau tidak?

Karena niat mau berbagi pengalaman perjalanan rohani kami ini, maka baru kali ini kami bicarakan secara detail apa yang terjadi saat itu satu per satu.

Saya sendiri baru sekarang mendengar ceritera soal pergulatan bathin Winnie hari itu untuk menjadi Katholik. Soalnya, waktu menjemputnya di sore hari, pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Winnie adalah: “bagaimana cara menjadi Katholik buat orang dewasa?”

Pertanyaan itu saja betul-betul sudah suatu kejutan besar buat saya.

Nah, sejak hari itu, kejadian selanjutnya juga susul-menyusul tak putus-putusnya sehingga baru waktu mendiskusikan postingan ini, Winnie sempat ungkapkan adanya pergulatan dia sebelum akhirnya sampai ke keputusan mau menjadi Katholik. Dan saya sendiri selama 15 tahun lebih setelah kejadian hari itu, tak pernah punya kesempatan untuk bicara lagi detail pengambilan keputusan itu waktu itu. Akan tetapi buat saya sendiri, bukankah pertanyaan Winnie soal bagaimana menjadi Katholik itu adalah pertanyaan yang sudah saya tunggu selama hampir 23 tahun?

Nah, begitu menyetir keluar dari tempat parkir perusahaan tempat kerja Winnie, saya cuma bilang ok, kita pulang dulu dan coba saya tanyakan ke Gereja. Setelah turunkan Winnie di rumah, saya pun langsung mengebut ke Gereja.

Hanya Direktur Pendidikan Agama di Gereja yang masih ada di kantornya minggu sore itu. Saya minta waktu dan ceriterakan seluruh kejadian dan dia anjurkan saya ketemu dengan Father Phil.

“Pendidikan RCIA atau pelajaran agama untuk orang dewasa sudah berjalan berapa bulan, dan Malam Paskah ini, yang kurang dari dua bulan lagi, mereka akan dibaptis,” kata Fr. Phil. Apakah beliau masih ingat ceritera saya tentang Winnie membuat tanda salib pertama waktu saya ketemu kemarin pagi sehabis misa, saya juga tak tahu. Yang jelas Fr. Phil terus merasa kalau sekarang beliau lagi berhadapan dengan urusan serius.

“Tapi baiklah,” lanjut Fr. Phil, “karena ini kejadian khusus, setiap Minggu saya sendiri yang akan mengajarkan pelajaran agama kepada Winnie, biar Winnie dibaptis bersama dengan rombongan tahun ini. Tapi begitu kelas RCIA berikut mulai lagi bulan Agustus nanti, kalian berdua harus ikuti kelas itu dari awal sampai selesai.” Begitulah putusan Fr. Phil dan tentu saja kami menerima dengan tangan terbuka.

Alm P. Juan Sans, SJ. Foto koleksi pribadi

Alm P. Juan Sans, SJ. Foto koleksi pribadi

Kebetulan ada seorang pastor Jesuit dari Filipina, Fr. Juan Sans yang sempat tinggal di Indonesia yang sedang jadi tamu di paroki kami. Maka waktu pertemuan itu, Fr. Phil memperkenalkan kami dengan Fr. Juan yang memang pernah bertugas di Jawa Tengah. Kami sempat mengundang Fr. Juan ke rumah dan sempat diskusi juga soal pengalaman Winnie dan saya. Sampai saat itu, ibarat kran air, begitu kami buka, bukan kran seukuran kran di dapun dapur atau kran di kamar mandi, tetapi kran dari mobil pemadam kebakaran. Kami betul-betul butuhkan bimbingan rohani saat itu, dan Fr. Phil tidak selamanya siap, maka itu kehadiran Fr. Juan Sanz SJ betul-betul sangat membantu. Selain itu saya masih terus bertukar email dengan Pater Marcel di Manilla. Kami butuh bimbingan rohani agar kami tidak terjatuh dalam peristiwa rohani dengan dinamika yang gencar sekali ini.

Hari Senin saya sempat telpon dan menjelaskan kepada John apa yang terjadi di rumahnya menurut ceritera Winnie. Saya juga ceritera tentang keinginan Winnie yang dia ungkapkan kemarin untuk menjadi Katholik. Setelah mengucapkan selamat atas keputusan Winnie, John mengusulkan agar saya harus segera mengajarkan Winnie bagaimana cara berdoa Rosario malam itu juga.

Karena saya pun baru saja mulai berdoa Rosario lagi akibat mau kembali ke Gereja serta doa-doa bersama di Conyers, dan sudah lama sekali tak pernah berdoa Rosario sendiri, saya lalu bertanya kepada John, kalau hari itu saya harus memulai dengan Peristiwa apa?

Winnie juga mendengar percakapan saya dengan John waktu itu. Saat saya bacakan lagi draft postingan ini untuk mencocokkan fakta dengan Winnie, dia lalu tambahkan ingatannya apa yang terjadi saat saya menelpon John malam itu.

Kata Winnie dia merasa nggak enak waktu dia dengar John bilang ‘Sorrowful Mistery’ atau Peristiwa Sedih. Koq baru mulai belajar, malah dari Peristiwa Sedih?

Eh, ternyata John sadar kalau hari itu hari Senin, dan dia koreksi terus suruh mulai dengan Peristiwa Gembira. Menurut Winnie, dia pun merasa lega malam itu.

Winnie bersama kelompok RCIA yang dibaptis malam itu dan para pembimbing RCIA.

Winnie bersama kelompok RCIA yang dibaptis malam itu dan para pembimbing RCIA.

Nah, itu adalah hari pertama Winnie belajar doa Rosario, dan seingat saya limabelas tahun sudah berlalu, tapi Winnie hampir tak pernah lalai satu malampun dalam urusan berdoa Roasrio ini. Saya yang malah kewalahan. 😀 Setelah beberapa bulan, saya punya berbagai alasan, dan tidak selalu ikut waktu Winnie berdoa, tapi dia tetap saja melakukan tanpa keluhan apapun.

Akhirnya hari yang sudah ditunggu-tunggu pun tiba. Di Malam Paskah, 3 April 1999, bersama teman-teman RCIA tahun itu, Winnie dibaptis, dan resmi masuk ke dalam keluarga besar Gereja Katholik, dengan mengambil tempat di Gereja Katholik Gembala Baik (Good Shepherd Catholic Church), di Huntsville, Alabama, U.S.A. Ingat, inilah Gereja yang sama, yang berguyon dengan saya lewat dua homili Fr. Phil, dan amplop berisi $50 di malam Natal gara-gara saya kena PHK dan akhirnya dengan uang itu kami sampai ke Conyers. Siapa sih yang menyusun semua acara ini? 😀

…. bersambung.

{ 0 comments }

Di sanakah kamu? (11)

Waktu menceriterakan kembali hal itu malam ini, Winnie bilang dia sendiri tak mengerti kenapa muncul kedua kata itu di dalam benaknya. Belakangan ini setelah bisa Google macam-macam dengan lebih leluasa, baru dia tahu di mana missing link itu.

Kata Ping An dalam huruf Han. (Hanzi, Kanji) Foto koleksii pribadi.

Kata Ping An dalam Hanzi atau Kanji.
Foto koleksi pribadi.

Ternyata dalam pelajaran di sekolah dulu, kata Ping An cuma berarti selamat, aman, seperti dalam ungkapan “一路平安” (yi lu ping an) atau “semoga aman atau selamat dalam perjalanan”. Sedangkan untuk kata damai, peace, biasanya dipakai kata 和平 (he ping), misalnya dalam ungkapan 世界和平 (shi jie he ping) atau world peace, perdamaian dunia.

Lebih dari 5, 6 tahun sesudah menjadi Katholik baru Winnie sadar, kalau ungkapan ‘Peace be with you’ atau ‘semoga damai Tuhan besertamu’ itu dalam bahasa Tionghuanya disebut “愿你们平安” (Yuan ni men ping an) atau “平安跟随着你” (ping an gen sui zhe ni.) Artinya, baru lima enam tahun setelah kejadian di rumah Nancy itu baru Winnie mengerti, mengapa ada dua kata itu mengambang di otaknya.

Tapi kalau dipikir lagi, itu berarti karena dia masih belum Katholik dan tak tahu ungkapan Salam Damai, Syalom, Peace dsbnya, dia mendapat bisikan kata ‘Ping An’ atau ‘Peace’ hanya karena latar belakang pengetahuan pendidikan sekolah Tionghoanya. Sayang dalam kenyataan waktu itu, Winnie gagal menghubungkan dan memahami maknanya. Alasannya, karena dengan latar belakang kebudayaan Tionghoa Indonesia kami berdua, tak pernah kami gunakan kata ‘peace’, ‘syalom’ dalam menyapa sesama. Padahal kata Assalamu Alaykum misalnya juga punya arti yang sama selalu terdengar sejak kami masih kecil. Saya dibesarkan di kampung Islam. Winnie dibesarkan di dekat kampung Arab. Tapi bagi kami berdua yang bukan Muslim, baru setelah di luar negeri dan ketemu mahasiswa Muslim dari negara lain dan sehari-hari berkomunikasi dengan bahasa Inggris baru kami mengerti kalau kata-kata itu berarti ‘peace be upon you’ atau ‘damai untukmu.’ Ditambah lagi kalau melihat teman-teman orang Yahudi yang suka menggunakan kata ‘Syalom’ kami jadi sadar, alangkah dekatnya ketiga agama besar di Timur Tengah ini, paling tidak dalam cara menyapa sesama. Sebaliknya, datangilah keluarga Tionghua Indonesia yang belum pernah dengar kata syalom, salam damai dan sebutkan kata-kata itu, paling dia cuma akan tersenyum dan menyapa sebisanya. Sedangkan kalau disapa dengan “Salam Alaikum’, malah ada kemungkinan dia akan cepat bereaksi dengan menjawab, “Wa alaikum assalam”. Nah, dengan latar belakang kebudayaan itulah yang menurut saya membuat apa yang diungkapkan Winnie tentang pengalamannya di Conyers ini menggelitik. Koq pakai bahasa Tionghoa segala dalam mengirimkan pesan?

Hanya saja sampai di sini, kalau tidak hati-hati, kita mungkin bisa terperosok, dan terlibat dalam diskusi yang mempertanyakan mekanisme, maupun keabsahan pengertian bahwa ada sesuatu yang misteri yang bekerja di sana.

Buat saya dan Winnie, akan kami hindari diskusi semacam itu. Karena ini adalah bagian dari catatan perjalanan pulang kami, yaitu pulang ke pangkuan Bunda Gereja.

Kami tak minta anda untuk percaya, kami hanya mau share supaya teman-teman kami bisa mengerti kenapa kami buat apa yang kami buat. Setelah kami berdua jalani dan terutama akhir-akhir ini kami juga sempat merefleksi kembali, ternyata kami sudah lama menyerah dalam arti, kami terima bahwa segala kejadian di Conyers yang kami berdua alami adalah sentuhan tangan Ilahi lewat Roh Kudus. Setelah lebih dari 15 tahun ini, dengan segala kerendahan hati kami menerima rahmat ini apa adanya. Tanpa ada keraguan dan kembimbangan. Juga tak ada pertanyaan selanjutnya. It is what it is! Kami terima apa adanya dengan penuh sukacita.

Kembali ke ceritera Winnie soal rentetan kejadian hari itu, maka sesudah bau kemenyan berarti urusan tak ketemu kunci mobil ini adalah keanehan atau misteri atau mukjizat kedua di hari itu. Sedangkan kata ‘ping an’ yang merupakan bisikan Roh Kudus itu kami anggap sebagai bagian dari misteri kehilangan kunci.

Begitulah rekoleksi kami berdua mengingat kembali berbagai pembicaraan dalam perjalanan pulang malam itu. Dan saya masih tetap menyetir karena perjalanan masih cukup jauh, sedangkan malam pun makin bertambah pekat.

“Lha waktu di rumah John kenapa?” tanya saya kemudian.

“Waktu aku lihat salib itu, tubuh Tuhan Yesus berlumuran darah, banyak sekali. Aku tanya kamu, koq sampai gitu ya? Kamu bilang Iya. Ukuran patungnya tidak berubah, tapi tubuh Tuhan Yesus itu koq penuh darah?” Begitu Winnie mulai berceritera

“Lalu di dalam benakku tahu-tahu muncul pikiran, ‘If you want to make the sign of the cross, the time is now!’ (Kalau kamu ingin membuat tanda salib, sekaranglah saatnya!)”

Makanya Winnie terus berlutut dan membikin tanda salib.

“Hatiku sedih sekali, dan dalam hati aku berteriak terus, Oh, my God, oh, my God” (Ya, Tuhanku, ya Tuhanku) mengingat darah itu dan bayangkan sakitnya, walaupun hanya sekelebat.

Lalu sepertinya ada instruksi, “put both of your hands on the floor” (Letakkan kedua tanganmu di lantai).

Dia ikuti.

“Now put your forhead on the floor!” (Sekarang letakkan jidatmu sampai menempel ke lantai!)

“No, no!” kata Winnie di dalam hatinya. “Next time, (lain kali saja)” katanya melawan.

Winnie bilang dia ingat ada Rogers di belakangnya, dan dia tak ingin bersujud karena pantatnya akan mengarah ke Rogers.

“Just do it, just do it!” (Lakukan saja, lakukan saja!) Begitu kata suara di kepalanya.

“No! This is embarrassing!” kata Winnie dalam hatinya. “Next time.” “Tidak, aku malu! Nanti lain kali saja.”

“But when? Just do it now!” (Tapi kapan? Lakukan saja sekarang!)

Iya, ya, kapan lagi baru kami akan ke sini? Maka Winnie pun akhirnya mengalah pada suara bathin itu, terus membungkuk, menyentuhkan jidatnya ke lantai dan menangis terus, tak tahu apa yang harus dia kerjakan.

“You can get up, now” (Kamu boleh bangun, sekarang) lagi-lagi ada suara yang mengingatkan dia dalam bathinnya, sambil ingatkan juga kalau Rogers ada di belakangnya. Langsung dia menegakkan kepala, melihat kebelakang, terus berhenti menangis. Ternyata Rogers sedang berdiri dan semua pada melihat ke dirinya dengan wajah kebingungan.

Kami berdua betul-betul bingung dengan kejadian dahsyat ini.

Besoknya, walaupun hari Minggu, saya mengantar Winnie ke tempat kerjanya, karena Winnie memang kerja di akhir pekan, dan saya ke Misa sendiri. Saya sempat bilang ke Fr. Phil bahwa untuk pertama kalinya saya melihat Winnie membuat tanda salib. Buat saya itu sesuatu yang luar biasa. Tapi buat Fr. Phil yang harus menyalami umat lain di belakang saya, tentu tidak begitu masuk ke dalam perhatiannya.

…. bersambung.

{ 0 comments }

Di sanakah kamu? (10)

Tak lama kemudian tiba-tiba Winnie bilang: “Sorry Jo, tadi waktu kamu masih mau berdoa lagi di ruangan itu selesai acara doa mereka, aku terpaksa keluar duluan.”

“Nggak apa-apa, karena kamu kan mau makan,” jawabku.

“Bukan! Aku nggak lapar tapi aku mau menghirup udara segar, karena dalam ruangan itu aku pusing. Pusingnya payah sekali! Pusing, hilang, pusing, hilang, bolak-balik terus.”

“Apa?” tanya saya keheranan.

The Most Reverend Robert J. Baker STD, the fourth Bishop of  Birmingham.

Penggunaan kemenyan di dalam Misa. Foto: Koleksi Pribadi,

“Aku tak tahan bau kemenyannya. Koq mereka pakai kemenyan sebanyak itu. Tapi aku nggak lihat ada asap? Di mana sih sebenarnya mereka bakar kemenyannya? Aku rasa seperti kemenyan yang dalam anglo kecil yang diayunkan pastor pada malam Natal atau Paskah itu.

“Apa?” Saya tersentak kaget sampai stir mobil pun terantuk dan ban depan mobil sempat oleng sebentar.

“Eh, hati-hati,” kata Winnie.

“Lho, aku nggak rasa bau kemenyan, dan aku nggak lihat ada yang bakar kemenyan di situ,” kataku.

“Tapi baunya tajam sekali, dan kepalaku selalu sakit tiap kali aku mencium bau itu? Benar-benar menusuk hidungku! Baunya terasa seperti di sekitarku. Masya kamu yang duduk di sampingku nggak merasa?”

“Ah, nggak,” kataku.

“Baunya datang berkali-kali, dan setiap kali bau itu datang, saat pusingnya sudah tak tertahankan, dalam bathin aku mengeluh, ‘Oh my God, koq loro’e koyo ngene?” (Ya Tuhan, koq sakitnya seperti ini?)

Waktu itu campuran bahasa Inggris Jawa ini sama sekali luput dari perhatian kami. Tapi saat membacakan kembali buat Winnie, jadi geli juga. Rupanya bahasa Inggris campur Jawanya Winnie bukan masalah, karena tahu-tahu, begitu saja baunya hilang, sebelum akhirnya datang lagi berulang kali seperti kata Winnie.

Winnie memang alergi terhadap bau wangi. Kalau ada yang pakai parfum di sekitarnya, dia akan sakit kepala.

Setelah percakapan itu kami berdua terdiam sebentar, tenggelam dalam lamunan masing-masing.

Tempat berlutut di ruang Aparisi, Conyers, GA. Foto koleksi pribadi,

Tempat berlutut di ruang Aparisi, Conyers, GA. Foto koleksi pribadi,

Nampaknya pengalaman setiap orang di Conyers berbeda, pikir saya. Karena biarpun waktu itu saya duduk di samping Winnie tak jauh dari pojok kiri depan ruang aparisi dekat tempat berlutut seperti yang tampak di gambar samping, tapi sama sekali tak pernah merasa bau kemenyan itu.

Perhatikan bahwa dalam hal ini, pusat perhatian kami sama sekali tidak pada pesan-pesan dari Bunda Maria lewat Nancy seperti yang banyak diberitakan media pada waktu itu, melainkan kepada pengalaman rohani yang unik di sana.

Waktu ketemu ‘Rest Area’, yaitu tempat istirahat buat para pengguna kendaraan di jalan raya antar negara bagian, saya bilang pada Winnie untuk mampir biar bisa manfaatkan fasilitas WC mereka.

Tempat istirahat ini memang menyediakan ruangan berisi media audiovisual untuk ramalan cuaca daerah sekitar, berbagai peta, hotel dan tempat wisata di negara bagian itu serta mesin penjual makanan/minuman (vending machines). Di siang hari biasanya ada pegawai-pegawai yang menunggui kantor di situ untuk memberikan info tentang negara bagian mereka; sedangkan di malam hari, ada penjaga yang membersihkan fasilitas itu maupun bertindak sebagai petugas keamanan dengan kemampuan bisa segera menghubungi polisi atau ambulance bila ada keadaan darurat.

Udara di luar tambah dingin karena sudah malam, jadi Winnie masukkan tangan ke kantongnya begitu turun dari mobil. Tiba-tiba dia kaget dan bilang:

“Lho, kunciku koq di sini?”

Saya tak mengerti dan tanya, “kuncimu kenapa?”

Dia bilang, sudahlah, nanti baru aku ceriterakan, lalu kami masing-masing berjalan ke WC yang terpisah.

Tanda Lalin Jalan Masuk ke Rest Area. Sumber Foto: Google Earth.

Tanda Lalin Jalan Masuk ke Rest Area. Sumber Foto: Google Earth.

Rest Area yang kami masuki ini terletak di perbatasan Alabama Georgia, sepanjang Interstate Highway I-20 dari arah Georgia masuk ke Alabama. Di jurusan ke Georgia yang dibatasi dengan jalur hijau, ada juga Rest Area milik Georgia buat tamu yang masuk dari perbatasan Alabama. Tempat peristirahatan itu sudah memasuki wilayah Georgia jadi tidak tepat di seberang rest area yang kami masuki tapi agak masuk ke arah yang barusan kami lewati.

Setelah jalannya mobil sudah stabil waktu kami masuk lagi ke highway I-20, Winnie baru berceritera lagi urusan kunci itu.

Ternyata waktu saya masuk ke rumah Nancy, Winnie ingin masuk, nyalakan pemanas dan tunggu di mobil saja biar lebih hangat. Namun kata Winnie, walaupun dia cari kemana-mana, ke kantong jaket, kantong celana, ke dalam tasnya, tapi tak ketemu kumpulan kuncinya. Waktu saya keluar melihat dia berjalan sambil melihat dedauanan kering itu, sebenarnya dia sudah bolak-balik berapa kali, mencari apakah segengam kunci yang tadi dia sempat pakai, jatuh di sana.

Tapi karena saya menggapai dan dia melihat Nancy sudah menunggu di pintu, dia pun berjalan ke arah kami. Namun ada dua kata dalam bahasa Tionghua yang terus mengiang di otaknya waktu dia berjalan ke arah saya, Nancy dan Elizabeth. Ping An, ping an (平安, 平安) yang artinya ‘selamat, atau aman, bebas dari bahaya’ tapi dia tak tahu kenapa kata itu muncul di pikirannya, kata Winnie.

…. bersambung.

{ 0 comments }