Jajak Pendapat (Polling) Sejauh Manakah Kebenarannya
Jul 2nd, 2009 by drhi
Diskusi masalah polling selalu menarik. Karena statistik yang dibentuk adalah pendapat masyarakat. Dengan polling banyak informasi yang bisa kita peroleh misalnya 54 persen dari laki-laki dewasa (18-44 tahun) di US selalu memikirkan tentang sex paling tidak sekali sehari, atau survey oleh Roper menyebutkan kemungkinan satu dari lima puluh orang Amerika pernah di culik oleh UFO, atau kita bisa menurunkan kolesterol kita sebanyak sepertiga, menguatkan jantung, dan memperpanjang umur kita dengan menkonsumsi satu kaleng 7UP setiap harinya (Cynthia Crossen, Tainted Truth). Gawiser and Witt dalam bukunya A Journalist Guide to Public Opinion Polls, mengatakan kalau selalu ada hubungan antara media masa dan pendapat masyarakat. Karena polling mengukur apa yang di pikirkan oleh masyarakat, sementara apa yang dipikirkan masyarakat bisa dibentuk oleh media masa. Tetapi yang menjadi pertanyaan sejauh manakah hasil polling ini bisa dipercaya. Seperti pengakuan David Moore yang adalah senior editor dari Gallop poll, para peneliti tidak mengungkapkan semua yang terjadi dibalik hasil polling.
Seperti tulisan saya sebelum ini, apakah ada tujuan lain dibalik hasil polling pemilihan presiden yang saat ini sedang hangat. Hasil polling politik ini kadang-kadang menjadi penting karena ini adalah satu-satunya alat yang bisa digunakan untuk melihat kepopuleran seorang kandidat. Selain itu juga polling ini bisa di test hasilnya pada saat hari pemilihan umum nanti. Lalu apa sebenarnya tujuan polling politik? Ada beberapa hal, tetapi yang utama adalah untuk memprediksi siapakah yang akan menang dalam lomba politik ini. Ada hal lain yang kadang-kadang dilupakan, bahwa polling juga bisa digunakan untuk mempengaruhi opini masyarakat melalui media masa. Biasanya setelah hasil poll diumumkan, akan ada bandwagon effect. Dampak ini terutama terjadi pada voters yang tidak begitu mengikuti perkembangan politik, atau tidak memperoleh informasi yang cukup mengenai politik akan ikut-ikutan bergabung memilih kandidat yang sedang terkenal berdasarkan hasil polling.
Dalam tulisan sebelum ini, saya menyebutkan kalau hal yang pertama kita gunakan untuk melihat validitas survey adalah common sense. Dari beberapa literature yang saya baca sesungguhnya sulit untuk membandingkan dua hasil polling kalau kita tidak punya informasi tentang methodologynya. Karena kalau methodanya berbeda kedua survey tersebut tidak bisa dibandingkan. Secara sederhana tentunya yang kita pertanyakan adalah bagaimana caranya para peneliti itu sampai pada kesimpulan yang mereka publikasikan. Sekedar hiburan video berikut ini memperlihatkan betapa mudahnya para peneliti mendapatkan apa yang mereka inginkan dalam polling.
Jumlah sampel yang diambil dan sebarannya adalah hal berikut yang perlu mendapat perhatian. Masalah sampel ini sering menjadi perdebatan yang tidak ada ujungnya. Ada kawan yang menanyakan mana mungkin sampel sebesar 1000 orang misalnya bisa mewakili pendapat 100 ribu orang. Tidak mudah menjawab ini, tetapi secara gampang mungkin ada contohnya yaitu pada waktu kita masak soup mengapa pada saat kita cicipi rasanya hanya satu sendok sudah cukup. Mengapa hanya satu sendok soup, tidak sepanci soupnya kita makan sebelum kita menyimpulkan kalau soup itu kurang garam atau tidak. Atau kalau kita kedokter hendak mencheck cholesterol kita mengapa hanya sedikit darah yang diambil, bukan seluruh darah kita dikeluarkan untuk melihat berapa level cholesterol kita. Masih banyak contoh lain yang bisa menjawab pertanyaan mengapa sampel bisa mewakili populasi. Memang banyak hitungan didalamnya tetapi saya tidak ingin masuk terlalu dalam karena akan membosankan pembaca.
Bagaimana kita bisa mendeteksi apakah sampel yang diambil sudah mewakili populasi. Mungkin tidak bisa terlalu tepat tetapi paling tidak ada yang bisa kita pegang. Contohnya adalah bila para peneliti mengatakan jumlah sampel yang diambil proporsional dengan jumlah penduduk maka kita bisa melihat jumlah penduduk dari masing2 daerah yang diwakili. Kalau kota Jakarta dengan jumlah penduduk lebih dari 8 juta orang diambil sampel sebanyak 100 orang apakah bisa dikatakan proporsional jika Kupang dengan penduduk 350 ribu orang diambil sampel sebesar 200 orang. Kesalahan pengambilan sampel ini sering terjadi sehingga salah juga dalam kesimpulannya. Salah satu yang paling terkenal di US adalah pada tahun 1936, majalah Literary Digest mengirim kuestioner ke para pemilik telpon dan mobil yang pada saat itu termasuk golongan menengah ke atas dari sisi pendapatan. Kuestioner itu menanyakan siapa yang akan terpilih dalam pemilihan presiden pada pemilihan mendatang. Semuanya memilih Alfred Landon dari partai republican. Majalah tersebut mempublikasikan prediksinya kalau Alfred Landon akan menang dalam pemilihan mendatang berdasarkan hasil surveynya. Ternyata yang menang adalah Franklin D Roosevelt dari partai democrat dengan selisih yang sangat jauh. Disini terlihat bahwa majalah tersebut tidak memperhitungkan kekuatan golongan ekonomi menengah ke bawah, sehingga mereka tidak disampel. Sampel seperti inilah yang termasuk dalam kategori tidak mewakili populasi.
Masih ada hal lain lagi yang sebaiknya kita lihat dalam membaca hasil polling ini. Para scholars sering menyarankan sebaiknya kita membekali diri dengan informasi seperti ini agar tidak salah dalam membaca hasil polling, survey, atau penelitian.

