≡ Menu

Di sanakah kamu? (12)

Sewaktu masih berceritera kejadian di rumah John, Winnie tiba-tiba ingat, kalau setelah kejadian di rumah John itu, Rogers pernah mengirim dia Holy Card atau kartu suci yang sudah diberkati, bergambar kepala Tuhan Yesus yang berdarah, yang selalu Winnie simpan dalam dompetnya.

Blessed Card given by Rogers to Winnie. Image Source: John Haber.

Blessed Card given by Rogers to Winnie.
Image Source: John Haber.

“Bukan!”, kata saya kepada Winnie begitu melihat foto itu. “Ini bukan patung di rumah John yang kamu lihat malam itu!”

Seingat saya patung itu bersih dan hanya ada beberapa bintik darah di dadanya.

Kemudian saya pergi membuka kotak berisi tumpukkan foto-foto, ambil foto yang yang kemudian saya postkan di bawah ini dan tunjukkan kepada Winnie.

The Blessed Card. Image source: John Haber.

The Blessed Card.
Image: John Haber.

Ini juga bukan foto dari rumah John. Patung Kristusnya di foto ini memang kelihatan berdarah seperti yang terlihat dalam kartu suci terberkati (Blessed Card) yang dikirim Rogers.

Dalam foto di samping kanan, terlihat tulisan tangan Rogers berbunyi: “Ini adalah salib yang dilihat oleh ibu Tanone di Conyers. Rogers Haddad.”

“Oh!” Tiba-tiba saya menepuk jidat.

“Tunggu dulu”, saya bilang kepada Winnie. “Saya tak ingat secara pasti, tapi rasanya foto ini saya jepret di ruang tamu Nancy. (Akan saya cek hal ini lagi kepada John, kalau sempat ke Conyers lagi!).

Badannya Tuhan Yesus memang berdarah, dan kemungkinan foto yang Rogers berikan kepada Winnie itu adalah foto kepala patung dari salib yang ada di ruang tamu Nancy ini. Maaf, saya harus pastikan soal ini begitu ada kesempatan ke Conyers dan akan saya postingkan hasil pengecekan saya di sini. Karena betul-betul sudah lupa-lupa ingat setelah 15 tahun berlalu. Itu pula sebabnya kenapa saya paksakan membuat catatan ini, sebelum akhirnya memory kami termakan usia.

The Cross in Nancy's Living Room. Foto: Koleksi Pribadi.

Salib di ruang tamu Nancy.
Foto: Koleksi Pribadi.

“Kalau ini betul foto dari rumah Nancy, bukankah berarti ada yang inginkan kamu melihatnya di rumah Nancy?” Itulah pertanyaan yang mengganggu pikiran dan saya tanyakan juga kepada Winnie. “Lha kamu berusaha menghindar terus, makanya Rogers bisa tiba-tiba muncul di depan mobil kita, lalu ajak kita ke rumah John. Kamu bisa ikuti jalan pikiranku, nggak?”

Winnie cuma bilang: “tentu saja aku mengerti?”

Saya sendiri waktu menepuk jidat tadi, karena saya merasa, ibarat jala yang ditebarkan seorang nelayan, jalanya betul-betul lebar, dan ketat sampai tak ada seekor ikan pun yang bisa lolos.

Bayangkan, mulai dengan bau kemenyan, lalu kunci hilang, dan Nancy sudah keluar dan tunggu di pintu, ketemu Nancy, tetapi Winnie tetap tidak masuk ke ruang tamunya yang ada patung berdarah Tuhan Yesus di salib,….

Hm, siapa bilang Tuhan tak bisa guyonan?

“Nggak mau masuk lihat aku di rumah Nancy? Aku kirim Rogers untuk bawa kamu ke rumah John!”

Pikiran itu membuat saya geli sendiri. Winnie bisa mengikuti jalan pikiran saya ini dan mengangguk setuju.

*

Kembali ke ceritera saya menjemput Winnie ke tempat kerjanya. Hari itu, Minggu 14 February 1999 itu adalah hari Valentine. Saat teman-teman kerjanya ribut bicarakan soal Valentine, Winnie lagi sibuk dengan urusannya sendiri.

Sepanjang hari menurut Winnie, dia terus bergelut dalam bathin, apakah mau menjadi Katholik atau tidak?

Karena niat mau berbagi pengalaman perjalanan rohani kami ini, maka baru kali ini kami bicarakan secara detail apa yang terjadi saat itu satu per satu.

Saya sendiri baru sekarang mendengar ceritera soal pergulatan bathin Winnie hari itu untuk menjadi Katholik. Soalnya, waktu menjemputnya di sore hari, pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Winnie adalah: “bagaimana cara menjadi Katholik buat orang dewasa?”

Pertanyaan itu saja betul-betul sudah suatu kejutan besar buat saya.

Nah, sejak hari itu, kejadian selanjutnya juga susul-menyusul tak putus-putusnya sehingga baru waktu mendiskusikan postingan ini, Winnie sempat ungkapkan adanya pergulatan dia sebelum akhirnya sampai ke keputusan mau menjadi Katholik. Dan saya sendiri selama 15 tahun lebih setelah kejadian hari itu, tak pernah punya kesempatan untuk bicara lagi detail pengambilan keputusan itu waktu itu. Akan tetapi buat saya sendiri, bukankah pertanyaan Winnie soal bagaimana menjadi Katholik itu adalah pertanyaan yang sudah saya tunggu selama hampir 23 tahun?

Nah, begitu menyetir keluar dari tempat parkir perusahaan tempat kerja Winnie, saya cuma bilang ok, kita pulang dulu dan coba saya tanyakan ke Gereja. Setelah turunkan Winnie di rumah, saya pun langsung mengebut ke Gereja.

Hanya Direktur Pendidikan Agama di Gereja yang masih ada di kantornya minggu sore itu. Saya minta waktu dan ceriterakan seluruh kejadian dan dia anjurkan saya ketemu dengan Father Phil.

“Pendidikan RCIA atau pelajaran agama untuk orang dewasa sudah berjalan berapa bulan, dan Malam Paskah ini, yang kurang dari dua bulan lagi, mereka akan dibaptis,” kata Fr. Phil. Apakah beliau masih ingat ceritera saya tentang Winnie membuat tanda salib pertama waktu saya ketemu kemarin pagi sehabis misa, saya juga tak tahu. Yang jelas Fr. Phil terus merasa kalau sekarang beliau lagi berhadapan dengan urusan serius.

“Tapi baiklah,” lanjut Fr. Phil, “karena ini kejadian khusus, setiap Minggu saya sendiri yang akan mengajarkan pelajaran agama kepada Winnie, biar Winnie dibaptis bersama dengan rombongan tahun ini. Tapi begitu kelas RCIA berikut mulai lagi bulan Agustus nanti, kalian berdua harus ikuti kelas itu dari awal sampai selesai.” Begitulah putusan Fr. Phil dan tentu saja kami menerima dengan tangan terbuka.

Alm P. Juan Sans, SJ. Foto koleksi pribadi

Alm P. Juan Sans, SJ. Foto koleksi pribadi

Kebetulan ada seorang pastor Jesuit dari Filipina, Fr. Juan Sans yang sempat tinggal di Indonesia yang sedang jadi tamu di paroki kami. Maka waktu pertemuan itu, Fr. Phil memperkenalkan kami dengan Fr. Juan yang memang pernah bertugas di Jawa Tengah. Kami sempat mengundang Fr. Juan ke rumah dan sempat diskusi juga soal pengalaman Winnie dan saya. Sampai saat itu, ibarat kran air, begitu kami buka, bukan kran seukuran kran di dapun dapur atau kran di kamar mandi, tetapi kran dari mobil pemadam kebakaran. Kami betul-betul butuhkan bimbingan rohani saat itu, dan Fr. Phil tidak selamanya siap, maka itu kehadiran Fr. Juan Sanz SJ betul-betul sangat membantu. Selain itu saya masih terus bertukar email dengan Pater Marcel di Manilla. Kami butuh bimbingan rohani agar kami tidak terjatuh dalam peristiwa rohani dengan dinamika yang gencar sekali ini.

Hari Senin saya sempat telpon dan menjelaskan kepada John apa yang terjadi di rumahnya menurut ceritera Winnie. Saya juga ceritera tentang keinginan Winnie yang dia ungkapkan kemarin untuk menjadi Katholik. Setelah mengucapkan selamat atas keputusan Winnie, John mengusulkan agar saya harus segera mengajarkan Winnie bagaimana cara berdoa Rosario malam itu juga.

Karena saya pun baru saja mulai berdoa Rosario lagi akibat mau kembali ke Gereja serta doa-doa bersama di Conyers, dan sudah lama sekali tak pernah berdoa Rosario sendiri, saya lalu bertanya kepada John, kalau hari itu saya harus memulai dengan Peristiwa apa?

Winnie juga mendengar percakapan saya dengan John waktu itu. Saat saya bacakan lagi draft postingan ini untuk mencocokkan fakta dengan Winnie, dia lalu tambahkan ingatannya apa yang terjadi saat saya menelpon John malam itu.

Kata Winnie dia merasa nggak enak waktu dia dengar John bilang ‘Sorrowful Mistery’ atau Peristiwa Sedih. Koq baru mulai belajar, malah dari Peristiwa Sedih?

Eh, ternyata John sadar kalau hari itu hari Senin, dan dia koreksi terus suruh mulai dengan Peristiwa Gembira. Menurut Winnie, dia pun merasa lega malam itu.

Winnie bersama kelompok RCIA yang dibaptis malam itu dan para pembimbing RCIA.

Winnie bersama kelompok RCIA yang dibaptis malam itu dan para pembimbing RCIA.

Nah, itu adalah hari pertama Winnie belajar doa Rosario, dan seingat saya limabelas tahun sudah berlalu, tapi Winnie hampir tak pernah lalai satu malampun dalam urusan berdoa Roasrio ini. Saya yang malah kewalahan. 😀 Setelah beberapa bulan, saya punya berbagai alasan, dan tidak selalu ikut waktu Winnie berdoa, tapi dia tetap saja melakukan tanpa keluhan apapun.

Akhirnya hari yang sudah ditunggu-tunggu pun tiba. Di Malam Paskah, 3 April 1999, bersama teman-teman RCIA tahun itu, Winnie dibaptis, dan resmi masuk ke dalam keluarga besar Gereja Katholik, dengan mengambil tempat di Gereja Katholik Gembala Baik (Good Shepherd Catholic Church), di Huntsville, Alabama, U.S.A. Ingat, inilah Gereja yang sama, yang berguyon dengan saya lewat dua homili Fr. Phil, dan amplop berisi $50 di malam Natal gara-gara saya kena PHK dan akhirnya dengan uang itu kami sampai ke Conyers. Siapa sih yang menyusun semua acara ini? 😀

…. bersambung.

{ 0 comments… add one }

Leave a Comment

Next post:

Previous post: