Di sanakah kamu? (14)

by drt on May 26, 2014

Setelah Winnie dibaptis, tak ada lagi kejutan seperti yang kami alami sejak November 1998.

Pertama Winnie menjadi sakristan, tenaga sukarela untuk mempersiapkan keperluan misa di hari Rabu sore. Kemudian karena prodiakon yang mengurusi piala anggur kadang tidak hadir, akhirnya Winnie belajar dan menjadi seorang prodiakones yang membantu pastor membagi hosti atau anggur kepada umat sewaktu misa, sehingga dia bisa mengisi tugas prodiakon sewaktu misa Rabu sore di Kapela, kalau yang bertugas tidak hadir.

Pelayanan Ekaristi bersama Fr. Louis Giardino, Pastor Paroki kami. Foto koleksi pribadi.

Pelayanan Ekaristi bersama Fr. Louis Giardino, Pastor Paroki kami. Foto koleksi pribadi.

Suatu ketika ada yang berceritera tentang pelayanan ekaristi buat orang sakit yang tak bisa ikut misa dan sedang opname di RS atau tinggal di rumah. Dalam bayangan Winnie, seperti yang sering dia dengar dari ceritera teman-teman kerja dia, ini pasti suatu kunjungan beramai-ramai dari sekolompok anggota paroki untuk berdoa bersama dengan si sakit dan keluarganya.

Setelah mendengar ceritera itu, Winnie sempat pikir mau ikut tidak ya? Seperti biasanya sehabis doa Rosario menjelang tidur, Winnie membuka Alkitab, dan dia kaget sekali membaca ayat berikut di halaman yang dia buka:

Pergi ke rumah duka lebih baik dari pada pergi ke rumah pesta, karena di rumah dukalah kesudahan setiap manusia; hendaknya orang yang hidup memperhatikannya. (Pkh 7:2)

Lho koq begini bunyinya?

Winnie sebenarnya tidak terlalu senang berada di dekat orang sakit, apalagi orang yang akan meninggal. Setelah berhari-hari memikirkan bacaan ini, akhirnya hati Winnie tergerak juga, lalu dia menelpon ke gereja mencari tahu apa yang harus dia kerjakan untuk bisa melayani mereka yang sakit. Bayangannya kalau datang berkelompok untuk berdoa, walaupun tak senang tapi tak apalah. Setelah bisa dihubungi lewat telepon, petugas kordinator urusan pengantaran hosti ke rumah sakit ini bilang, dia merasa senang sekali atas keinginan Winnie, karena mereka di gereja memang lagi kekurangan tenaga pengantar hosti buat mereka yang sedang sakit.

Karena teringat ceritera teman-teman kerjanya, Winnie bertanya, berapa orang yang akan pergi bersama dia untuk mengantar hosti buat mereka yang sakit?

“One on one, Winnie,” kata petugas kordinator itu. Maksudnya satu lawan satu. Cuma kamu sendiri yang akan ke sana. Tapi untuk beberapa minggu pertama, kamu bisa ikut prodiakones yang bertugas untuk belajar bagaimana melayani mereka yang sakit.

Setelah magang beberapa minggu, suatu hari akhirnya Winnie mendapat telpon. Ada yang membutuhkan pelayanan ekaristi dan mereka butuh bantuannya.

“Tapi ini adalah pasien kanker terminal, tinggal tunggu waktu saja,” kata kordinator prodiakon itu.

“Apa? Lha bagaimana dengan mereka yang lain?” Winnie balik bertanya.

“Ternyata selain masalah waktu, di mana setiap orang sudah punya jadwal siapa yang dikunjungi, ada juga yang tidak tega melayani orang yang sudah diujung perjalanan hidup mereka.”

Winnie ragu-ragu sesaat, tapi dia merasa bahwa orang-orang ini juga membutuhkan pelayanan, makanya dia pun menerimanya.

Prodiakones dalam misa malam Paskah 2009. Foto koleksi pribadi.

Prodiakones dalam misa malam Paskah 2009.
Foto koleksi pribadi.

Tugas pelayanan ini sempat terputus setelah dua tiga tahun saat tempat kerja dan waktu kerjanya berubah. Tapi kemudian begitu jam kerjanya berubah lagi, dan setiap kali para Usher melihat dia di Gereja, mereka sering bilang ada pasien baru yang membutuhkan hosti di RS, dan menanyakan apakah dia bisa membantu, Winnie agak bingung. Membagi waktu dan pikiran ternyata persoalan utama Winnie. Kadang kami sering cekcok juga urusan tugas gereja Winnie. Bagaimanapun, kami manusia biasa. Pengalaman di Conyers tak mengubah status kami sebagai pendosa. Kadang saya malah sering bergurau dengan Winnie, sebelum atau sesudah doa malam. Biar saya yang berbuat dosa dan dia yang memintakan ampun buat dosa-dosa saya.

Tapi suatu malam ketika selesai berdoa, tanpa sengaja Winnie menemukan ayat yang sama sewaktu membuka Alkitab.

Ah, Alkitab setebal begini, koq bisa ketemu ayat yang sama lagi setelah sekian tahun? Akhirnya Winnie berpikir, mungkin memang sudah tugas dia untuk kembali mengantar hosti lagi dan langsung melanjutkan tugas yang sempat dia tinggalkan ini.

Tugas ini dikerjakan dengan setia sampai suatu hari seorang teman baik mantan prodiakones yang selalu dia bawakan hosti selama empat tahun akhirnya meninggal di tahun 2012. Ditambah lagi kondisi kesehatannya sendiri juga mulai menurun dan gerakannya tidak seleluasa dulu, akhirnya Winnie tinggalkan tugas prodiakones ini beberapa bulan lalu.

Saya sendiri selalu heran, kenapa begitu banyak orang kalau ketemu dia di Gereja rasanya seperti ketemu teman baik mereka, saling jabat tangan dan rangkul-rangkulan segala.

Itu siapa? Tanya saya setelah orang-orang itu pergi.

– Suaminya baru meninggal karena kanker. Aku selalu bawakan hosti buat mereka.

– Itu teman yang baru kehilangan mamanya,

– Itu papanya pernah dirawat di ICU dan mereka sangat berterima kasih karena aku yang bawakan hosti selama dia di RS,…dan masih banyak lagi.

Shrine tempat ruang aparisi. Foto koleksi pribadi

Shrine tempat ruang aparisi.
Foto koleksi pribadi

Tapi dari sekian banyak orang itu, tak banyak yang tahu, kenapa Winnie begitu tekun melayani mereka yang lain lewat pelayanan Ekaristi bagi mereka yang sakit. Tak banyak juga yang tahu, bagaimana Winnie ikut bergabung dengan Gereja Katholik. Juga tak banyak yang tahu pengalaman Winnie di rumah John, serta bagaimana Winnie lalu memutuskan menjadi Katholik, duapuluh dua tahun setelah kami menikah dengan dispensasi dari keuskupan Semarang. Selain teman-teman kelas RCIA yang dibaptis bersama di malam Paskah serta para pembimbing mereka, dan teman-teman kelas RCIA serta pembimbing mereka tahun berikutnya, dimana Fr. Phil mengharuskan kami ikuti lagi klas RCIA setelah Winnie dibaptis, tak banyak yang tahu tentang pengalaman kami di Conyers. Begitulah, waktu berlalu dan hidup pun terus berjalan. Mukjizat pun masih saja berlangsung, baik yang kita sadari atau tidak.

….. bersambung

{ 2 comments… read them below or add one }

Belinda Gunawan May 26, 2014 at 8:46 pm

Dear Aris & Winnie,

Setelah membaca pengalaman-pengalaman Winnie, saya makin percaya bahwa everything happens for a reason, dan segala sesuatu akan menjadi indah pada waktunya. Tuhan memilih saat yang tepat dan orang yang tepat pula. Dan suami orang yang tepat itu menuliskannya kembali supaya saya dan banyak orang bisa membacanya dan semakin percaya. Pasti ada alasannya juga… :)

Saya ingin mengutip baris-baris kalimat dari sampul belakang sebuah buku doa:
“Bagaikan kuncup mawar pada waktunya mekar
Percayalah…
Tuhan jadikan semua indah pada waktu-Nya.”

drt May 27, 2014 at 12:16 am

Terima kasih bu Belinda Gunawan atas komentarnya. Terus terang bagian-bagian terakhir seri ini adalah bagian yang paling susah untuk dituangkan dalam bentuk tulisan dan itu yang menyebabkan tertundanya postingan ini.

Kami, terutama saya yang berusaha merangkum pengalaman selama 15 tahun lebih ini selalu menghadapi kesulitan dalam menyajikan semua misteri ini ke dalam satu urutan yang masuk akal. Namun semakin saya berusaha, semakin sulit menuangkannya, karena sering kali apa yang ingin saya tuangkan terasa bertentangan dengan logika serta latar belakang science and engineering saya. Tapi dorongan seperti komentar bu Belinda ini yang menguatkan saya, bahwa misteri ini harus ditulis dan dishare dengan teman-teman. Tolong doakan agar saya bisa menyelesaikan tugas ini secepatnya. Terima kasih.

Leave a Comment

Previous post: